Pramono Anung Teratas di Mata Anak Muda, Integritas Jadi Ujian Utama

By Goenk1975 29 Okt 2026, 10:35:50 WIB DKI Jakarta
Pramono Anung Teratas di Mata Anak Muda, Integritas Jadi Ujian Utama

Keterangan Gambar : Pramono Anung Teratas di Mata Anak Muda


Bernusa.com. JAKARTA — Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memperoleh apresiasi kinerja tertinggi dari kelompok anak muda dalam survei Muda Bicara ID periode 15 September–10 Oktober 2026. Namun, di balik tingginya penilaian terhadap para kepala daerah, survei ini juga mengirimkan pesan penting: integritas dan kemampuan menciptakan lapangan kerja menjadi tolok ukur utama kepemimpinan.

Pramono meraih penilaian positif sebesar 62,5 persen. Ia mengungguli Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda yang memperoleh 60,8 persen dan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi sebesar 58,2 persen.

Selisih penilaian Pramono dengan Sherly hanya 1,7 poin persentase. Adapun jaraknya dengan Dedi mencapai 4,3 poin persentase. Angka tersebut menempatkan Pramono di posisi teratas di antara tiga gubernur yang disebut dalam hasil survei itu, meski belum cukup untuk menyimpulkan bahwa perbedaan penilaian mereka signifikan secara statistik.

Baca Lainnya :

Survei yang melibatkan 800 responden berusia 18–40 tahun itu mencatat integritas dan bebas korupsi sebagai indikator penilaian tertinggi, yakni 72,2 persen. Kemampuan menciptakan lapangan kerja menyusul dengan 70,2 persen.

Integritas dan pekerjaan, dua tuntutan yang saling berkaitan

Tingginya perhatian terhadap integritas menunjukkan bahwa persoalan kepemimpinan tidak dapat dilepaskan dari kepercayaan publik. Bagi masyarakat, termasuk kelompok usia muda, pemerintahan yang baik bukan sekadar pemerintahan yang mampu menjalankan program, melainkan juga yang bersih, transparan, dan dapat mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran.

Sementara itu, tingginya penilaian terhadap kemampuan menciptakan lapangan kerja memperlihatkan pentingnya dimensi ekonomi dalam mengukur kinerja kepala daerah. Lapangan kerja bukan hanya persoalan angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan kesempatan memperoleh penghasilan, kepastian masa depan, dan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan hidup.

Kedua indikator tersebut menghadirkan tantangan yang tidak ringan. Pemerintahan yang bersih tetapi tidak mampu memperluas kesempatan ekonomi akan menghadapi pertanyaan tentang efektivitas kebijakannya. Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi dan penciptaan pekerjaan juga kehilangan makna apabila tidak disertai tata kelola yang berintegritas.

Bagi Pramono, posisi teratas dalam survei ini dapat dibaca sebagai modal kepercayaan publik. Namun, apresiasi tersebut bukan cek kosong. Penilaian positif perlu dijawab melalui hasil kebijakan yang dapat dirasakan masyarakat, terutama dalam pelayanan publik, kesempatan kerja, dan pengelolaan pemerintahan yang bebas dari korupsi.

Apresiasi bukan akhir penilaian

Angka 62,5 persen juga menyisakan ruang untuk evaluasi. Penilaian positif tersebut belum mencapai dua pertiga responden, meskipun tidak tepat untuk langsung menyimpulkan bahwa sisanya merupakan kelompok yang tidak puas. Kategori penilaian lain dan distribusi jawaban responden perlu diketahui untuk membaca hasilnya secara utuh.

Selain itu, angka survei tidak dapat berdiri sendiri sebagai ukuran keberhasilan pemerintahan. Penilaian publik perlu diperiksa bersama indikator yang lebih konkret, seperti perkembangan kesempatan kerja, kualitas pelayanan kesehatan dan pendidikan, keterjangkauan kebutuhan dasar, serta transparansi anggaran.

Hasil survei Muda Bicara ID ini karena itu lebih dari sekadar urutan popularitas tiga gubernur. Temuan tersebut menunjukkan dua tuntutan penting yang perlu dijawab oleh kepemimpinan daerah: menjaga integritas kekuasaan dan menghadirkan peluang ekonomi.

Pramono boleh menempati posisi teratas dalam penilaian anak muda. Namun, ujian sesungguhnya bukan mempertahankan angka survei, melainkan memastikan kepercayaan itu berbanding lurus dengan perubahan yang nyata dalam kehidupan warga Jakarta.