- Ilhamsyah Buka Suara di Rakernas Jarnasindo: Indonesia Emas 2045 Harus Berpihak pada Rakyat dan Buruh
- Berikut Panduan Praktis Memulai Usaha bagi Pemula
- Sri Asih, Perempuan Tangguh di Balik Layanan AgenBRILink, Permudah Transaksi Warga Kutoarjo
- KAI Logistik Rampungkan Pengiriman 8 Unit KRL dari Banyuwangi ke Kalimas
- Gods within Her: Generasi Muda Vietnam di Tengah Milan Fashion Week
- Kementerian UMKM dan Barantin Berkolaborasi Permudah Akses Pasar Ekspor UMKM
- Dokter Citra Poerwa: Stres Finansial Bisa Berdampak pada Kesehatan Fisik dan Mental
- Telkom AI Center Dukung AI Hackathon Aceh 2026, Dorong Inovasi Digital Berbasis AI di Kalangan Mahasiswa
- Jakarta Financial Festival 2026 Sukses, 1.000 Rekening Baru Dibuka
- Membawa Kehangatan ke Kota Pahlawan, Scandia Hadir di PRJ Surabaya 2026
Anak Krakatau Tak Lagi Siaga, Badan Geologi: Tetap Waspada dan Patuhi Radius 2 Kilometer

Keterangan Gambar : Anak gunung Krakatau.(Dok Pribadi).
BERNUSA.COM, Jakarta – Aktivitas vulkanik Gunungapi Anak Krakatau di Selat Sunda menunjukkan tren penurunan. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pun menurunkan status aktivitas gunungapi tersebut dari Level III Siaga menjadi Level II Waspada.
Penurunan status berlaku mulai Senin, 21 September 2026 pukul 18.30 WIB, setelah Badan Geologi melakukan pemantauan dan evaluasi menyeluruh terhadap perkembangan aktivitas Gunungapi Anak Krakatau.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria mengatakan evaluasi menunjukkan adanya kecenderungan penurunan aktivitas vulkanik.
Baca Lainnya :
“Setelah dilakukan analisis dan evaluasi secara menyeluruh terhadap kondisi terkini, tingkat aktivitas Gunungapi Anak Krakatau diturunkan dari Level III Siaga menjadi Level II Waspada,” ujar Lana, dikutip dari laman resmi Kementerian ESDM, Selasa (22/9/2026).
Meski status diturunkan, masyarakat dan wisatawan tetap diminta mematuhi rekomendasi keselamatan. Badan Geologi melarang masyarakat memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius dua kilometer dari pusat aktivitas Gunungapi Anak Krakatau.
Potensi bahaya masih dapat terjadi meski aktivitas gunungapi mengalami penurunan. Masyarakat diminta mewaspadai kemungkinan lontaran batu pijar dan hujan abu dengan intensitas tinggi.
Badan Geologi juga mengimbau masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung tetap tenang serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, termasuk isu yang menyebut aktivitas Anak Krakatau akan memicu tsunami.
“Kami mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mempercayai isu atau informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan mengenai erupsi Gunungapi Anak Krakatau yang disebut akan menyebabkan tsunami,” kata Lana.
Sempat 224 Kali Erupsi
Sebelumnya, Gunungapi Anak Krakatau berada pada Level III Siaga sejak 2 Juli 2026 pukul 16.30 WIB. Status tersebut ditetapkan menyusul peningkatan aktivitas kegempaan vulkanik dan deformasi gunungapi.
Dalam periode tersebut, tercatat 224 kali erupsi hingga 3 September 2026. Aktivitas kembali meningkat pada awal September dengan erupsi yang berlangsung sekitar 25 jam, mulai 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga 6 September 2026 pukul 00.04 WIB.
Pemantauan citra satelit menunjukkan aktivitas erupsi saat itu menghasilkan aliran lava yang bergerak ke arah barat laut, barat hingga barat daya dari pusat erupsi.
Setelah periode tersebut, aktivitas Gunungapi Anak Krakatau menunjukkan tren penurunan hingga 20 September 2026 pukul 00.00 WIB.
Data deformasi juga menunjukkan adanya deflasi. Pada 20 September 2026, Badan Geologi mencatat satu kali gempa low frequency serta tremor menerus dengan rata-rata amplitudo sekitar dua milimeter.
Badan Geologi memastikan pemantauan akan terus dilakukan. Evaluasi status Gunungapi Anak Krakatau dapat diperbarui secara berkala maupun sewaktu-waktu apabila terjadi perubahan aktivitas yang signifikan.(AS/BN).
_-_Copy.png)









_(1).png)
