- Perkuat Inovasi dan Layanan Digital, Bank Raya Perluas Percepatan Inklusi Keuangan Digital di Indonesia
- Ilhamsyah Buka Suara di Rakernas Jarnasindo: Indonesia Emas 2045 Harus Berpihak pada Rakyat dan Buruh
- Berikut Panduan Praktis Memulai Usaha bagi Pemula
- Sri Asih, Perempuan Tangguh di Balik Layanan AgenBRILink, Permudah Transaksi Warga Kutoarjo
- KAI Logistik Rampungkan Pengiriman 8 Unit KRL dari Banyuwangi ke Kalimas
- Gods within Her: Generasi Muda Vietnam di Tengah Milan Fashion Week
- Kementerian UMKM dan Barantin Berkolaborasi Permudah Akses Pasar Ekspor UMKM
- Dokter Citra Poerwa: Stres Finansial Bisa Berdampak pada Kesehatan Fisik dan Mental
- Telkom AI Center Dukung AI Hackathon Aceh 2026, Dorong Inovasi Digital Berbasis AI di Kalangan Mahasiswa
- Jakarta Financial Festival 2026 Sukses, 1.000 Rekening Baru Dibuka
Ilhamsyah: Bapor Tak Boleh Sekadar Jadi Pengawal Aksi, Buruh Harus Bangun Kekuatan Politik

Keterangan Gambar : Ilhamsyah, Ketua Umum KPBI Saat Memberikan Arahan Tentang Fungsi Bapor di Serikat Buruh
Bernusa.com. JAKARTA — Perjuangan buruh tidak cukup berhenti pada demonstrasi dan pemogokan. Tanpa organisasi yang kuat, kader yang terdidik, serta struktur yang mengakar di pabrik dan permukiman, semangat perlawanan berisiko kehilangan daya untuk mendorong perubahan mendasar.
Ketua Umum Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI), Ilhamsyah, menekankan pentingnya menjadikan pengalaman panjang gerakan buruh sebagai pijakan untuk memperkuat organisasi dan mempersiapkan kader yang mampu memimpin perjuangan.
“Perjalanan panjang membangun serikat buruh mengajarkan kita banyak hal. Berbagai pengalaman perjuangan, kemenangan maupun kekalahan, harus menjadi pelajaran untuk memperbaiki dan memperkuat organisasi. Ini perjuangan panjang,” demikian penekanan dalam seruan bertajuk Tanggung Jawab Sejarah tersebut yang disiarkan hari ini (24/10).
Baca Lainnya :
- Pemuda Adat Suku Srer Melawan, Investor Pabrik Air Kemasan Ditolak!0
- PT Akarsa Garment Indonesia Hadapi Dinamika Industri Garmen Nasional0
- Ratusan Buruh FSPIM Kepung PT Hengjaya Mineralindo, Mogok Kerja Berlanjut hingga Ada Kepastian Penyelesaian0
- KSP-PB Soroti RUU Perlindungan Ketenagakerjaan, Minta Cuti Haid Otomatis dan Sanksi Tegas bagi Pengusaha0
- KSP-PB Usulkan Badan Khusus di Bawah Presiden Awasi Pelaksanaan Aturan Ketenagakerjaan0
Menurut Ilhamsyah, perubahan struktural dan mendasar tidak cukup hanya mengandalkan semangat perlawanan. Gerakan buruh membutuhkan organisasi yang kuat, basis anggota yang terdidik, terpimpin dan terorganisasi, serta kader-kader yang militan, disiplin, dan memiliki kemampuan mengorganisir.
“Bapor bukan sekadar pengawal demonstrasi atau pemogokan. Bapor harus menjadi barisan kader terdepan yang mampu melakukan propaganda, membangun kekuatan basis, menjalankan advokasi kasus perburuhan dan persoalan rakyat, hingga memperkuat struktur perjuangan politik di tingkat teritorial,” demikian pesan yang disampaikan dalam seruan tersebut.
Pernyataan itu menempatkan Barisan Pelopor (Bapor) bukan semata-mata sebagai unsur pengamanan aksi, melainkan sebagai bagian dari kekuatan pengorganisasian yang bekerja membangun basis, mendampingi persoalan rakyat, dan memperluas jangkauan perjuangan politik.
Ilhamsyah juga menyoroti pentingnya menyiapkan kader-kader terbaik untuk menjalankan tugas organisasi yang lebih besar. Kader tidak hanya dituntut memiliki keberanian menghadapi lawan, tetapi juga kemampuan membangun organisasi dan memimpin perjuangan di tengah masyarakat.
“Kita membutuhkan kader yang tidak hanya berani melawan, tetapi juga mampu membangun, mengorganisir, dan memimpin perjuangan di teritorial sebagai bagian dari struktur di komite politik,” demikian penegasan dalam seruan tersebut.
Untuk mewujudkan tujuan itu, pembangunan struktur organisasi harus dilakukan di dua medan utama: pabrik atau perusahaan dan wilayah teritorial permukiman. Struktur pabrik menjadi basis pengorganisasian buruh di tempat kerja, sementara struktur permukiman membuka ruang untuk membangun kekuatan bersama masyarakat.
Penguatan kedua struktur tersebut menjadi penting agar gerakan buruh tidak hanya bergerak ketika muncul konflik industrial atau tuntutan di tempat kerja. Organisasi juga perlu hadir di tengah persoalan rakyat dan membangun kepemimpinan yang mampu menghubungkan perjuangan ekonomi dengan agenda politik.
Tantangan gerakan buruh, dengan demikian, bukan sekadar mengerahkan massa dalam aksi, melainkan membangun organisasi yang berkelanjutan dan menyiapkan kader yang mampu memperluas serta memimpin perjuangan.
Seruan Tanggung Jawab Sejarah itu ditutup dengan slogan: “Bangkit, lawan, hancurkan tirani!”
_-_Copy.png)








_(1).png)
