- Ilhamsyah Buka Suara di Rakernas Jarnasindo: Indonesia Emas 2045 Harus Berpihak pada Rakyat dan Buruh
- Berikut Panduan Praktis Memulai Usaha bagi Pemula
- Sri Asih, Perempuan Tangguh di Balik Layanan AgenBRILink, Permudah Transaksi Warga Kutoarjo
- KAI Logistik Rampungkan Pengiriman 8 Unit KRL dari Banyuwangi ke Kalimas
- Gods within Her: Generasi Muda Vietnam di Tengah Milan Fashion Week
- Kementerian UMKM dan Barantin Berkolaborasi Permudah Akses Pasar Ekspor UMKM
- Dokter Citra Poerwa: Stres Finansial Bisa Berdampak pada Kesehatan Fisik dan Mental
- Telkom AI Center Dukung AI Hackathon Aceh 2026, Dorong Inovasi Digital Berbasis AI di Kalangan Mahasiswa
- Jakarta Financial Festival 2026 Sukses, 1.000 Rekening Baru Dibuka
- Membawa Kehangatan ke Kota Pahlawan, Scandia Hadir di PRJ Surabaya 2026
ASNI Sentil BCA soal Isu Akuisisi Haji Isam: Perseroan Terbuka Kok Seperti Rumah Pribadi

Keterangan Gambar : Koordinator Aliansi Seniman Ngeyel Indonesia (ASNI), Pamit Andrianto.
BERNUSA.COM: Jakarta-Bantahan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) terhadap rumor rencana akuisisi saham oleh konglomerat asal Kalimantan Selatan, Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam, menuai kritik dari Koordinator Aliansi Seniman Ngeyel Indonesia (ASNI), Pamit Andrianto.
Pamit menilai respons manajemen BCA terhadap isu tersebut terkesan tergesa-gesa dan emosional. Menurutnya, cara perusahaan membantah rumor itu justru memunculkan tanda tanya mengenai sikap jajaran komisaris dan direksi terhadap sosok Haji Isam.
"Bantahan ini memperlihatkan pihak jajaran komisaris dan direksi merasa tidak senang atau tidak suka kepada sosok Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam," ujar Pamit Andrianto dalam keterangannya, Senin (28/9/2026).
Baca Lainnya :
- CBA Desak Bank BJB Evaluasi Tiga Pejabat yang Diperiksa KPK0
- Setelah Pergantian Pimpinan, CBA Soroti Laba Pertamina Hulu Energi Anjlok USD945,5 Juta0
- Anggaran Makan Napi Cibinong Cuma Rp7.333 Sekali Makan, CBA Soroti Fasilitas Mewah0
Ia menyoroti cara BCA merespons rumor yang beredar di media sosial. Menurut Pamit, bantahan yang disampaikan perusahaan tidak terdengar seperti penjelasan bisnis yang tenang dan meyakinkan, melainkan terkesan terburu-buru.
"Lihat saja cara mereka membantah. Bukan nada bicara dengan tenang dan meyakinkan, tetapi tergesa-gesa, berapi-api, seolah ada yang ingin diusir dari komisaris atau direksi sebelum sampai di depan pintu," kata Pamit.
Pamit juga menilai bantahan yang disampaikan Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, bukan hanya menjadi penjelasan resmi perusahaan, tetapi turut memunculkan kesan adanya ketidaksukaan terhadap kemungkinan masuknya Haji Isam ke dalam struktur kepemilikan BCA.
Ia kemudian melontarkan sindiran dengan menggambarkan BCA seolah-olah merupakan rumah pribadi yang menolak kedatangan tamu tertentu.
"Seolah-olah BCA itu rumah pribadi yang baru saja mendengar tamu yang tidak diundang berjalan mendekat. Padahal di papan nama tertulis, BCA adalah perseroan terbuka, milik semua pemegang saham," ujarnya.
Menurut Pamit, sebagai perusahaan terbuka, BCA semestinya memberikan penjelasan secara profesional terhadap berbagai isu yang menyangkut kepemilikan saham maupun aksi korporasi, tanpa menimbulkan kesan bahwa pihak tertentu tidak dikehendaki.
"Kalau Haji Isam datang membawa uang yang sah, kenapa harus ditolak? Apakah uangnya beda warna? Atau mereka takut ada yang ikut memeriksa isi kekayaan BCA di lemari besi?" sindirnya.
Pamit menduga respons keras terhadap rumor tersebut bisa saja berkaitan dengan kekhawatiran akan terganggunya kenyamanan yang selama ini dinikmati di lingkungan internal BCA. Namun, ia tidak membeberkan bukti yang dapat mengonfirmasi dugaan tersebut.
Ia juga menyinggung adanya aturan tidak tertulis dalam dunia bisnis yang menurutnya membuat tidak semua orang memiliki akses yang sama untuk masuk ke lingkaran kepemilikan perusahaan besar.
"Memang di dunia bisnis kita, ada aturan tidak tertulis. Beberapa orang boleh kaya, tetapi tidak semua orang boleh masuk. Haji Isam sepertinya tidak membaca daftar tamu yang diizinkan. Maka pintu tertutup oleh Bank BCA sebelum diketuk," tuturnya.
Lebih jauh, Pamit mempertanyakan apakah rumor tersebut benar-benar dianggap sebagai ancaman oleh BCA atau justru menimbulkan ketidaknyamanan karena munculnya figur baru yang berpotensi mengubah dinamika internal perusahaan.
"Apakah BCA benar-benar terancam, atau hanya merasa terganggu karena ada sosok baru yang tidak main sesuai aturan main Bank BCA yang belum diketahui publik?" katanya.
Ia menegaskan, respons perusahaan terhadap rumor tersebut semestinya menjadi bahan evaluasi mengenai bagaimana sebuah perseroan terbuka berkomunikasi dengan publik, terutama ketika menyangkut isu strategis yang berpotensi memengaruhi persepsi investor.
"Tapi satu hal jelas, ketakutan Bank BCA yang terlihat sering kali lebih jujur daripada penjelasan yang disusun rapi," pungkas Pamit.
Sebelumnya, BCA telah membantah rumor rencana aksi korporasi tersebut. Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menegaskan informasi mengenai rencana akuisisi saham perseroan yang beredar di media sosial tidak benar.
"Menanggapi isu yang beredar di media sosial terkait adanya rencana aksi korporasi tertentu terhadap BCA, dapat kami sampaikan bahwa informasi tersebut tidak benar," ujar Hera dalam keterangannya, Jumat (25/9/2026).
Hera juga mengimbau masyarakat dan nasabah agar memperoleh informasi mengenai BCA melalui sumber resmi perusahaan maupun media yang kredibel.
_-_Copy.png)









_(1).png)
