- Tekan Angka Kecelakaan, Polda Jabar Gencarkan Operasi Patuh Lodaya 2026
- Membangun Kepercayaan di Tengah Pertumbuhan Ekonomi AI Indonesia
- Pertamina Foundation Hadirkan Daycare Bumi Patra Simprug, Wujudkan Lingkungan Kerja Ramah Keluarga
- BRI BO Yogyakarta Cik Ditiro Hadirkan BRICafe, Layanan Perbankan dan Kafe dalam Satu Ruang
- Perkuat Inovasi dan Layanan Digital, Bank Raya Perluas Percepatan Inklusi Keuangan Digital di Indonesia
- Ilhamsyah Buka Suara di Rakernas Jarnasindo: Indonesia Emas 2045 Harus Berpihak pada Rakyat dan Buruh
- Berikut Panduan Praktis Memulai Usaha bagi Pemula
- Sri Asih, Perempuan Tangguh di Balik Layanan AgenBRILink, Permudah Transaksi Warga Kutoarjo
- KAI Logistik Rampungkan Pengiriman 8 Unit KRL dari Banyuwangi ke Kalimas
- Gods within Her: Generasi Muda Vietnam di Tengah Milan Fashion Week
Biodigester Rorotan Diusulkan Jadi Prototype CSR untuk Atasi Sampah Organik di Jakarta

Keterangan Gambar : Panitia Khusus (Pansus) CSR/TJSL DPRD Provinsi DKI Jakarta bersama Kepala Pokja Pengembangan Ekonomi Sirkular Direktorat Pengurangan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Asep Setiawan dan Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara Edy Mulyanto meninjau fasilitas tersebut, Senin (5/10/2026).
BERNUSA.COM, Jakarta– Pengolahan sampah organik berbasis biodigester komunal di Rusunawa Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, didorong menjadi proyek percontohan program tanggung jawab sosial dan lingkungan perusahaan (CSR/TJSL) di Jakarta.
Hal tersebut mengemuka saat Panitia Khusus (Pansus) CSR/TJSL DPRD Provinsi DKI Jakarta bersama Kepala Pokja Pengembangan Ekonomi Sirkular Direktorat Pengurangan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Asep Setiawan dan Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara Edy Mulyanto meninjau fasilitas tersebut, Senin (5/10/2026).
Ketua Pansus CSR/TJSL DPRD DKI Jakarta, Ghozi Zulazmi, meminta program pengolahan sampah sisa olahan dapur (SOD) tersebut dapat berjalan secara gratis bagi masyarakat.
Baca Lainnya :
- Bank Jakarta Bangun Biodigester di Rorotan, Sampah Diolah Jadi Biogas dan Pupuk0
- Ketika Angka Desil Mengalahkan Kenyataan0
- Glow Society Makin Seru di K Mall at Menara Jakarta0
- Ilmu Zhahir, Ilmu Batin, dan Jalan Tarekat: Menyatukan Syariat, Dzikir, dan Akhlak0
- Krisis Air Baku Jakarta, PAM Jaya Diminta Perkuat Diversifikasi Sumber Air0
Menurut Ghozi, program CSR seharusnya tidak sekadar berupa bantuan, tetapi mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
“Filosofi kita CSR ini harusnya kan menjawab permasalahan. Itu poin pertama,” ujar Ghozi di lokasi.
Ia menilai fasilitas biodigester di Rusunawa Rorotan memiliki potensi untuk menjadi prototype CSR yang dapat diterapkan di wilayah lain.
Ghozi mengatakan, apabila program tersebut berhasil, Suku Dinas Lingkungan Hidup maupun Bank Jakarta dapat menjadikannya sebagai acuan untuk mengembangkan program serupa.
“Kalau benchmark ini berhasil, Sudin Lingkungan Hidup bisa mencontohnya. Ataupun Bank Jakarta, saya pikir ini menjadi satu prototype CSR yang signifikan dampaknya, menjawab masalah,” katanya.
Ia berharap pengolahan sampah organik tidak berhenti di Rusunawa Rorotan, tetapi dapat diperluas ke berbagai wilayah Jakarta sehingga manfaatnya semakin dirasakan masyarakat.
Bank Jakarta Terbuka untuk Duplikasi
Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, menyatakan pihaknya terbuka untuk menduplikasi program CSR biodigester tersebut ke wilayah administrasi lain di Jakarta apabila pelaksanaannya di Rorotan dinilai berhasil.
“Kalau ini nanti berhasil, kami sangat terbuka untuk ini diduplikasi. Ini adalah bagian dari satu prototype dan nanti kalau ini cocok, ini bisa diduplikasi,” ujar Agus.
Namun, Agus menekankan bahwa keberadaan fasilitas saja tidak cukup. Aspek pengelolaan dan keberlanjutan harus dipastikan sejak awal.
Menurutnya, meskipun fasilitas tersebut diberikan secara gratis melalui program CSR, tetap diperlukan pihak yang bertanggung jawab mengoperasikan dan merawatnya.
“Walaupun ini gratis, harus ada yang mengelola. Kalau enggak ada yang mengelola ya enggak ada manfaatnya,” jelasnya.
Agus juga mengusulkan agar mekanisme pengelolaan fasilitas hasil program CSR dapat diatur dalam rancangan peraturan daerah (Raperda) yang akan datang.
Salah satu opsi yang diusulkan adalah adanya petugas khusus, seperti Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP), yang bertugas mengelola fasilitas hasil CSR.
“Harapan saya mungkin kalau nanti diperdakan, seperti ini sekaligus diatur, Pak Ketua. Jadi, apakah itu ada PJLP yang khusus untuk pengelolaan hasil-hasil CSR semacam ini,” katanya.
Agus mencontohkan pembangunan taman melalui program CSR. Menurutnya, setelah fasilitas dibangun, harus ada pihak yang bertugas menjaga dan merawat agar manfaatnya dapat bertahan dalam jangka panjang.
Rorotan Jadi Lokasi Awal
Agus menjelaskan, Rusunawa Rorotan dipilih sebagai lokasi awal karena mempertimbangkan kesiapan tempat serta dukungan dari Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara.
“Kesiapan, kesiapan yang waktu itu jadi tempatnya. Kemudian support dari Sudin di sini juga,” ungkapnya.
Ia berharap apabila program biodigester di Rorotan berhasil, permintaan serupa dapat muncul dari wilayah lain.
“Kalau ini berhasil, bukan masalah lima wilayah kota, tapi memang merata di seluruh Jakarta,” pungkas Agus.
Program biodigester tersebut diharapkan menjadi salah satu model pengelolaan sampah organik berbasis ekonomi sirkular yang tidak hanya mengurangi timbulan sampah, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat melalui pemanfaatan hasil pengolahan sampah.(AS/BN).
_-_Copy.png)









_(1).png)
