Diaspora Budaya: Aksara Jawa dan Pegon Jadi Simbol Persaudaraan Indonesia–Suriname

By Achmad Soleh 03 Nov 2025, 16:48:44 WIB Bisnis
Diaspora Budaya: Aksara Jawa dan Pegon Jadi Simbol Persaudaraan Indonesia–Suriname

Keterangan Gambar : Komunitas Aksara Tradisi dari Indonesia bersama komunitas Aksara Arab Pegon dan Aksara Jawa di Suriname sukses menggelar Forum Group Discussion (FGD) Tahap I pada Sabtu, 1 November 2025.


Bernusa.com, JAKARTA– Komunitas Aksara Tradisi dari Indonesia bersama komunitas Aksara Arab Pegon dan Aksara Jawa di Suriname sukses menggelar Forum Group Discussion (FGD) Tahap I pada Sabtu, 1 November 2025. Aksara Tradisi dari Indonesia bersama komunitas Aksara Arab Pegon dan Aksara Jawa di Suriname sukses menggelar Forum Group Discussion (FGD) Tahap I pada Sabtu, 1 November 2025. Aksara Tradisi dari Indonesia bersama komunitas Aksara Arab Pegon dan Aksara Jawa di Suriname sukses menggelar Forum Group Discussion (FGD) Tahap I pada Sabtu, 1 November 2025.

Kegiatan ini difasilitasi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Paramaribo sebagai langkah strategis menuju nominasi bersama (joint nomination) ke UNESCO dalam kategori Intangible Cultural Heritage (ICH) atau Warisan Budaya Takbenda.

Format Lintas Waktu dan Ruang

Baca Lainnya :

    FGD diselenggarakan dalam format hibrida, menghubungkan peserta di dua benua.

    Para pegiat budaya di Indonesia bergabung secara daring pada pukul 20.00 WIB melalui Zoom Meeting, sementara peserta di Suriname hadir langsung di KBRI Paramaribo, Van Brusellaan #3, Uitvlugt, yang dipimpin langsung oleh Duta Besar Indonesia untuk Suriname, Agus Priyono, pada pukul 10.00 waktu setempat.


    Kegiatan ini dihadiri sejumlah pakar aksara, akademisi, dan komunitas budaya, yang menunjukkan komitmen kuat dari berbagai pihak dalam upaya pelestarian aksara warisan leluhur.

    Tujuan Utama: Naskah Bersama untuk UNESCO

    Fokus utama FGD adalah penyusunan naskah nominasi bersama antara Indonesia dan Suriname.

    Indonesia akan mengusung tradisi baca-tulis aksara nusantara yang masih hidup dan dipraktikkan di berbagai daerah, sementara Suriname menonjolkan Aksara Arab Pegon dan Hanacaraka (Jawa) — warisan yang dibawa oleh leluhur keturunan Jawa sejak abad ke-19.


     “Kolaborasi antara komunitas di Indonesia dan Suriname merupakan langkah strategis yang sangat penting. Ini bukan hanya tentang warisan aksara, tetapi juga tentang memperkuat ikatan sejarah dan budaya antara dua negara,”

    ujar Duta Besar Agus Priyono dalam sambutannya.

    Pokok Bahasan FGD

    Beberapa poin penting yang dibahas dalam FGD antara lain:

    Definisi dan Signifikansi: Penguatan konsep “praktik menulis aksara tradisional” sebagai identitas budaya yang terus hidup di kedua negara.

    Pembagian Peran: Penentuan kontribusi komunitas dan lembaga dalam riset, dokumentasi, dan pelestarian aksara.

    Strategi Konservasi: Rencana keberlanjutan program pelatihan, pengajaran, dan regenerasi pengguna aksara pasca-nominasi UNESCO.

    Partisipasi aktif para ahli dan pegiat budaya diharapkan melahirkan draf awal nominasi yang kuat dan representatif.

    Langkah Selanjutnya: Tim Teknis Gabungan

    Kesuksesan pelaksanaan FGD tahap pertama ini menjadi momentum penting bagi kedua negara dalam memperkuat diplomasi kebudayaan.

    Hasil diskusi akan ditindaklanjuti dengan pembentukan tim teknis gabungan Indonesia–Suriname yang bertugas menyempurnakan naskah nominasi untuk diserahkan ke UNESCO.


    Kolaborasi ini menjadi contoh nyata bagaimana diaspora budaya mampu menjadi kekuatan global dalam melestarikan warisan takbenda bangsa yang lintas generasi dan lintas geografi.(AS/BN).