Kredit BNI Tembus Rp992,5 Triliun, Pengguna wondr by BNI Capai 16,6 Juta

By Achmad Soleh 27 Okt 2026, 12:29:48 WIB Bisnis
Kredit BNI Tembus Rp992,5 Triliun, Pengguna wondr by BNI Capai 16,6 Juta

Keterangan Gambar : BNI membukukan PPOP Rp27,5 triliun hingga kuartal III 2026, tumbuh 11,6%.


BERNUSA.COM, Jakarta – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI membukukan laba operasional sebelum pencadangan (*pre-provision operating profit/PPOP*) sebesar Rp27,5 triliun hingga kuartal III 2026. Angka tersebut tumbuh 11,6% secara tahunan (year on year/YoY) dan menjadi capaian tertinggi BNI untuk periode kuartal III.

Kinerja tersebut ditopang pertumbuhan kredit sebesar 22,2% YoY menjadi Rp992,5 triliun. Sementara itu, dana murah atau current account savings account (CASA) meningkat 19,6% menjadi Rp733,7 triliun.

Di tengah tantangan industri perbankan, BNI juga mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 6,6% YoY menjadi Rp16,1 triliun. Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) tumbuh 13,6% menjadi Rp33,2 triliun, sedangkan pendapatan berbasis komisi (*fee-based income*) naik 8,3% menjadi Rp13,9 triliun.

Baca Lainnya :

Direktur Utama BNI Putrama Wahju Setyawan mengatakan, capaian tersebut mencerminkan konsistensi perseroan dalam menjaga pertumbuhan bisnis yang berkualitas melalui penguatan fundamental dan pengelolaan risiko.

Menurutnya, BNI tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan disiplin dalam pengelolaan risiko untuk menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan.

Transaksi Digital Terus Meningkat

Transformasi digital turut menjadi pendorong kinerja bisnis BNI. Hingga September 2026, pengguna aplikasi wondr by BNI mencapai 16,6 juta, tumbuh 58% YoY. Nilai transaksinya tercatat Rp1.774 triliun, meningkat 25% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, BNIdirect membukukan nilai transaksi Rp9.324 triliun atau tumbuh 16% YoY, dengan jumlah pengguna mencapai 293 ribu, meningkat 19%.

BNI juga memperkuat jaringan cabang melalui inisiatif BRAVE (*Branch, Region & Area Value Empowerment*) untuk meningkatkan produktivitas layanan, transaksi, serta penghimpunan dana murah.

Kualitas Kredit dan Permodalan Terjaga

Dari sisi risiko, kualitas aset BNI menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah atau *non-performing loan* (NPL) gross turun dari 2% menjadi 1,9%. Sementara itu, rasio loan at risk (LaR) membaik dari 10,4% menjadi 7,8%.

BNI mempertahankan rasio total pencadangan terhadap kredit sebesar 3,8%, dengan NPL coverage ratio mencapai 193,3%. Capaian tersebut mencerminkan upaya perseroan menjaga kecukupan pencadangan untuk mengantisipasi potensi risiko kredit.

Dari sisi permodalan dan likuiditas, BNI mencatat rasio kecukupan modal atau *capital adequacy ratio* (CAR) sebesar 19,2%, loan to deposit ratio (LDR) 87,9%, serta liquidity coverage ratio (LCR) 143,4%.

Memasuki kuartal IV 2026, BNI akan melanjutkan penguatan pendanaan berbasis transaksi, penyaluran kredit secara selektif, pengelolaan risiko yang disiplin, serta transformasi digital.

Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan sekaligus memperkuat kontribusi BNI dalam mendukung pembiayaan sektor produktif dan perekonomian nasional. (AS/BN).