Gerak Cepat Istri Wamenham Bantu Warga Cianjur Dapatkan Kaki Palsu

By Goenk1975 10 Agu 2026, 20:51:36 WIB Daerah
Gerak Cepat Istri Wamenham Bantu Warga Cianjur Dapatkan Kaki Palsu

Keterangan Gambar : Rekan Indonesia Berkunjung Ke Kediaman Ibu Ati Di Cianjur


CIANJUR — Gerak cepat Mutiara Taripar Pulo, istri Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (Wamenham), membantu warga Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang membutuhkan kaki palsu setelah menjalani amputasi akibat penyakit autoimun dan gangguan jantung.

Warga tersebut adalah Ibu Ati, warga Desa Cimacan, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur. Setelah menjalani amputasi, Ibu Ati membutuhkan kaki palsu untuk dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari. Berdasarkan keterangan dan surat dokter dari RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, kebutuhan kaki palsu tersebut membutuhkan biaya sekitar Rp10 juta.

Ketua Umum Rekan Indonesia, Agung Nugroho, mengatakan persoalan Ibu Ati disampaikan kepada Mutiara Taripar Pulo pada 27 Juli 2026. Rekan Indonesia saat itu menanyakan kemungkinan adanya akses bantuan bagi warga Cianjur tersebut.

Baca Lainnya :

"Pada 27 Juli kami menghubungi Ibu Mutiara untuk menanyakan apakah ada jaringan atau akses bantuan yang dapat membantu Ibu Ati mendapatkan kaki palsu. Biayanya cukup besar, sekitar Rp10 juta, sementara keluarga tentu mengalami keterbatasan untuk membiayainya," kata Agung.

Menurut Agung, Mutiara Taripar Pulo langsung merespons persoalan tersebut dengan menghubungi pihak terkait, termasuk istri Wakil Menteri Sosial, untuk mengupayakan bantuan bagi Ibu Ati.

Respons tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan cepat. Pada 28 Juli 2026 sore, petugas Dinas Sosial Kabupaten Cianjur mendatangi kediaman Ibu Ati untuk melakukan verifikasi secara langsung.

"Jadi bukan hanya sekadar menerima informasi. Persoalan itu langsung ditindaklanjuti dengan verifikasi ke rumah. Ini yang kami apresiasi," ujar Agung.

Proses bantuan kemudian bergerak lebih cepat. Pada 30 Juli 2026, pihak Kementerian Sosial menghubungi keluarga Ibu Ati dan meminta agar yang bersangkutan datang ke Jakarta pada 31 Juli untuk menjalani pengukuran kaki palsu.

Pada 31 Juli 2026, Ibu Ati menjalani pengukuran di sebuah klinik di kawasan Sunter, Jakarta Utara. Setelah proses pengukuran selesai, kaki palsu kemudian diproses untuk dikirim kepada penerima bantuan.

Hanya beberapa hari kemudian, pada 3 Agustus 2026, kaki palsu tersebut tiba dan langsung dipasangkan kepada Ibu Ati.

"Alhamdulillah, prosesnya sangat cepat. Pada 27 Juli kami menyampaikan persoalan, 28 Juli dilakukan verifikasi, 31 Juli dilakukan pengukuran, dan 3 Agustus kaki palsunya sudah datang serta dipasangkan kepada Ibu Ati," kata Agung.

Selain membantu mengupayakan kaki palsu, Mutiara Taripar Pulo juga memberikan santunan kepada keluarga Ibu Ati. Bantuan tersebut diharapkan dapat sedikit meringankan beban kebutuhan hidup keluarga.

Agung menilai langkah cepat tersebut menunjukkan pentingnya kepedulian dan keberpihakan terhadap masyarakat yang menghadapi persoalan kesehatan sekaligus keterbatasan ekonomi.

"Yang kami apresiasi adalah kepeduliannya. Ketika ada warga yang membutuhkan alat bantu untuk melanjutkan kehidupannya, persoalan tersebut tidak dibiarkan berlarut-larut. Ada respons, ada koordinasi, dan ada solusi," ujarnya.

Ia berharap pengalaman Ibu Ati dapat menjadi contoh bahwa masyarakat yang membutuhkan alat bantu kesehatan, khususnya warga kurang mampu dan penyandang disabilitas, harus mendapatkan akses bantuan yang mudah dan cepat.

"Masih banyak warga yang membutuhkan kaki palsu, kursi roda, alat bantu dengar dan berbagai alat bantu lainnya. Jangan sampai mereka kehilangan kesempatan untuk hidup mandiri hanya karena tidak mampu membayar alat bantu tersebut," kata Agung.

Sementara itu, suami Ibu Ati, Abdurrohim, menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu keluarganya hingga akhirnya kaki palsu tersebut dapat diperoleh dan dipasangkan.

"Kami sekeluarga mengucapkan terima kasih atas bantuan dan perhatian yang diberikan kepada Ibu Ati. Bantuan ini sangat berarti bagi keluarga kami," ujar Abdurrohim.