- FSPMKI dukung pemogokan dokter Spesialis di Belu NTT : Bupati Belu jangan Baper !
- Mendag Busan Resmikan Pasar Tematik Industri Sidayu di Gresik: Perkuat Ekonomi Rakyat Berbasis Wisata dan Budaya
- PRSI Audiensi dengan BRIN, Perkuat Arah dan Kolaborasi Nasional
- Robotika untuk Negeri Hadir di Padang, Cetak Generasi Inovator dari MAN 1 Kota Padang
- Pengamat Sebut Posisi AS dan Israel Terdesak, Iran Pegang Kendali di Selat Hormuz.
- Terungkap! Kisah Perselingkuhan Suami dalam, Dalam Sujudku, Istri Pilih Bersujud di Tengah Luka
- Ketergantungan Impor Picu Krisis Plastik, Pemerintah Dorong Bioplastik Lokal
- Langkah Nyata Pemerintah: Koperasi Desa Merah Putih Resmi Beroperasi di Mimika
- Perang Timur Tengah dan Perebutan Energi Dunia
- Kowapta Soroti Kinerja Jakpro: Ambisi Besar Dinilai Tak Sejalan dengan Akuntabilitas
Keindahan Islam di Negeri Minoritas Muslim
Sebuah Refleksi Perjalanan di Hong Kong

Keterangan Gambar : Masjid Kowloon di Hongkong
MEGAPOLITANPOS.COM: Hong Kong, 8 November 2025 - Suhu 23°C, Cuaca Berawan, Masjid Kowloon, salah satu masjid terbesar di Hong Kong, menjadi saksi bisu keindahan Islam di negeri minoritas muslim ini. Saya, Ridwan, merasa terharu dan bersyukur ketika menginjakkan kaki di masjid ini, merasakan keagungan dan kedamaian yang dipancarkan oleh umat Islam di sini.
Hong Kong, sebuah negeri yang menjadi tujuan utama para Tenaga Migran Indonesia untuk mencari nafkah, ternyata menyimpan keindahan Islam yang luar biasa. Dalam perjalanan kali ini, saya menemukan beberapa fakta yang menggambarkan keindahan Islam di negeri ini.

Baca Lainnya :
Pertama, saya menyaksikan saudara-saudara kita yang berbeda agama, mayoritas warga negara lokal beretnis Tionghoa, sedang mempelajari Islam dipandu oleh saudara-saudara muslim muslimah dari Pakistan dan Kashmir di dalam Masjid Jami' Kowloon. Pemandangan ini mungkin akan dianggap aneh jika kita melihat fenomena ini di dalam masjid Indonesia. Namun, ini adalah bagian dari ijtihad para ulama di sini sebagai bentuk da'wah Islam kepada masyarakat mayoritas non muslim.

Kedua, saat shalat Jum'at selesai, saya mendapati adanya pengemis dengan jumlah yang cukup banyak, sekitar 20 orang, laki-laki dan perempuan, di lingkungan luar masjid. Yang menarik, mereka beretnis asli Hong Kong, bukan etnis Pakistan/Bangladesh/India (PBI) yang biasanya mendapat stigma ini. Para pengemis dari etnis asli ini justru menghiba belas kasihan dari Jama'ah sholat Jum'at yang kebanyakan dari etnis PBI.
Ketiga, shalat Zhuhur dan Ashar dilaksanakan 1 jam setelah azan dikumandangkan. Ini dilakukan dalam rangka memberikan waktu kepada muslim/muslimah yang tidak ingin ketinggalan sholat berjama'ah karena mereka datang dari tempat kerja yang mungkin berjarak sekitar 30-50 menit dari masjid Kowloon.

Keempat, Masjid Kowloon sebagai Islamic Center memiliki 3 lantai. Lantai 1 dan 2 diisi oleh mereka yang ingin belajar Islam, dan mayoritas dari kalangan anak-anak. Sungguh sebuah perjalanan yang membuat saya terharu, betapa kita bisa mendapatkan keindahan Islam dimanapun, bahkan di negeri yang minoritas muslim.
Spemoga ini bukan yang terakhir bagi saya menginjakkan kaki di negeri ini untuk bisa shalat di masjid yang sama. Rasanya masih ingin melihat another beauty of Islam yang mungkin banyak saya belum ketahui, inSya Allah, aamiin.
_-_Copy.png)






_(1).png)


.jpg)