- Ilhamsyah Buka Suara di Rakernas Jarnasindo: Indonesia Emas 2045 Harus Berpihak pada Rakyat dan Buruh
- Berikut Panduan Praktis Memulai Usaha bagi Pemula
- Sri Asih, Perempuan Tangguh di Balik Layanan AgenBRILink, Permudah Transaksi Warga Kutoarjo
- KAI Logistik Rampungkan Pengiriman 8 Unit KRL dari Banyuwangi ke Kalimas
- Gods within Her: Generasi Muda Vietnam di Tengah Milan Fashion Week
- Kementerian UMKM dan Barantin Berkolaborasi Permudah Akses Pasar Ekspor UMKM
- Dokter Citra Poerwa: Stres Finansial Bisa Berdampak pada Kesehatan Fisik dan Mental
- Telkom AI Center Dukung AI Hackathon Aceh 2026, Dorong Inovasi Digital Berbasis AI di Kalangan Mahasiswa
- Jakarta Financial Festival 2026 Sukses, 1.000 Rekening Baru Dibuka
- Membawa Kehangatan ke Kota Pahlawan, Scandia Hadir di PRJ Surabaya 2026
Menuju Kemandirian Teknologi, PRSI Apresiasi Langkah UHB Buka Prodi Robotika dan AI
Selain memperkuat pendidikan STEM, prodi ini menjadi fondasi penting dalam membangun kemandirian teknologi nasional.

Keterangan Gambar : Universitas Harapan Bangsa Purwokerto menghadirkan Prodi S1 Teknik Robotika dan AI untuk menjawab kebutuhan talenta digital Indonesia.
JAKARTA – Persatuan Robotika Seluruh Indonesia (PRSI) mengapresiasi dan mendukung penuh dibukanya Program Studi S1 Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) di Universitas Harapan Bangsa, Purwokerto, Jawa Tengah. Kehadiran program studi ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat pengembangan sumber daya manusia di bidang teknologi masa depan, khususnya robotika dan kecerdasan buatan, serta memperkuat pendidikan berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) di Indonesia. Pendaftaran mahasiswa baru Program Studi S1 Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan tahun akademik 2026–2027 telah resmi dibuka oleh Universitas Harapan Bangsa.
PRSI menilai langkah Universitas Harapan Bangsa ini relevan dengan arah kebijakan pemerintah yang terus mendorong penguatan industri berbasis teknologi tinggi. Robotika dan AI kini telah menjadi tulang punggung berbagai sektor, mulai dari manufaktur, kesehatan, pertanian presisi, hingga pertahanan. Hal ini juga sejalan dengan pentingnya penguatan kompetensi STEM sebagai fondasi dalam menghadapi perkembangan teknologi modern. Di sektor industri, penggunaan robot industri di Asia Tenggara meningkat signifikan dalam lima tahun terakhir, sementara adopsi AI di perusahaan Indonesia terus tumbuh seiring kebutuhan efisiensi dan inovasi.
Baca Lainnya :
- PRSI Audiensi dengan BRIN, Perkuat Arah dan Kolaborasi Nasional0
- Robotika untuk Negeri Hadir di Padang, Cetak Generasi Inovator dari MAN 1 Kota Padang0
- PRSI Kembangkan CNC Serbaguna, Perkuat Industri dan Siapkan Generasi Robotika0
- PB PRSI Audiensi dengan Wagub Jabar, TechnoFest 2026 Jadi Agenda Unggulan Penguatan Robotika0
- PRSI Sumut Perkuat Edukasi Teknologi Lewat Program Robotika Untuk Negeri di Nias0
“Pembukaan Program Studi S1 Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan ini merupakan langkah maju yang sangat strategis. Kami berharap ke depan program ini mampu membangun ekosistem robotika yang kuat. Lebih dari itu, kami optimistis langkah ini akan memberikan kontribusi nyata dalam memajukan perkembangan robotika dan kecerdasan buatan di Indonesia,” ujar Sekretaris Jenderal PRSI, Dr. (c) Dwi Nugroho Marsudianto, S.Sos., M.M di Jakarta, Sabtu (18/4/26).
PRSI menegaskan kolaborasi antara institusi pendidikan, organisasi, dan industri menjadi kunci utama dalam menciptakan inovasi dan daya saing bangsa di era transformasi digital. Dengan hadirnya program studi ini, diharapkan lahir generasi muda yang kompeten, kreatif, serta memiliki fondasi STEM yang kuat untuk menghadapi tantangan teknologi masa depan.
Data Kementerian Komunikasi dan Digital menunjukkan kebutuhan talenta digital Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 9 juta orang hingga 2030. Sementara itu, laporan industri global seperti dari World Economic Forum juga mencatat bahwa bidang AI, robotika, dan otomasi menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan pekerjaan tercepat di dunia. Kondisi ini menuntut dunia pendidikan untuk bergerak lebih adaptif, termasuk menghadirkan program studi yang relevan dengan kebutuhan industri.
“Program studi seperti ini harus mampu menjembatani teori dan praktik. Lulusan diharapkan tidak hanya paham konsep, tetapi juga mampu menciptakan solusi nyata yang bisa langsung diterapkan di industri,” tegas Dwi Nugroho.

PRSI juga memandang momentum ini sebagai bagian dari upaya besar membangun kemandirian teknologi nasional. Di tengah persaingan global yang semakin ketat, penguasaan robotika dan kecerdasan buatan menjadi faktor penentu dalam menjaga daya saing industri sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi. Peran perguruan tinggi dalam mencetak talenta unggul menjadi semakin krusial, terutama dalam menjembatani kebutuhan industri dengan pengembangan ilmu pengetahuan berbasis teknologi.
“Ini adalah investasi jangka panjang bagi bangsa. Ketika pendidikan, riset, dan industri berjalan selaras, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain penting dalam ekosistem robotika dan AI dunia,” pungkas Dwi Nugroho.
_-_Copy.png)









_(1).png)
