- Perkuat Inovasi dan Layanan Digital, Bank Raya Perluas Percepatan Inklusi Keuangan Digital di Indonesia
- Ilhamsyah Buka Suara di Rakernas Jarnasindo: Indonesia Emas 2045 Harus Berpihak pada Rakyat dan Buruh
- Berikut Panduan Praktis Memulai Usaha bagi Pemula
- Sri Asih, Perempuan Tangguh di Balik Layanan AgenBRILink, Permudah Transaksi Warga Kutoarjo
- KAI Logistik Rampungkan Pengiriman 8 Unit KRL dari Banyuwangi ke Kalimas
- Gods within Her: Generasi Muda Vietnam di Tengah Milan Fashion Week
- Kementerian UMKM dan Barantin Berkolaborasi Permudah Akses Pasar Ekspor UMKM
- Dokter Citra Poerwa: Stres Finansial Bisa Berdampak pada Kesehatan Fisik dan Mental
- Telkom AI Center Dukung AI Hackathon Aceh 2026, Dorong Inovasi Digital Berbasis AI di Kalangan Mahasiswa
- Jakarta Financial Festival 2026 Sukses, 1.000 Rekening Baru Dibuka
Ancaman dan Kekerasan Terhadap Anak, Oknum Polisi Surabaya Didesak Dipecat
.jpg)
Keterangan Gambar : Orang tua korban kemudian mendatangi Kantor Hukum D’Firmansyah & Rekan.
BERNUSA.COM, Surabaya, – Kasus dugaan penganiayaan terhadap anak yang melibatkan oknum anggota Polres Tanjung Perak Surabaya, Aipda Slamet Hutoyo, terus berkembang. Jumlah korban yang sebelumnya dilaporkan sebanyak empat anak, kini bertambah menjadi delapan orang.
Tiga dari empat korban awal telah melaporkan kasus tersebut ke SPKT Polrestabes Surabaya dengan nomor laporan LP/B/936/V/2026/SPKT/Polrestabes Surabaya/Polda Jawa Timur pada 3 Mei 2026. Laporan tersebut diwakili oleh Moch Umar (41), orang tua dari korban berinisial SBR (14). Korban lainnya masing-masing berinisial BS (15) dan NG (15).
Seiring mencuatnya kasus ini ke publik, sejumlah korban lain mulai berani angkat bicara. Sebelumnya, mereka memilih diam karena khawatir akan keselamatan diri dan keluarga.
Baca Lainnya :
- JKB Gandeng PSI di DPRD DKI, Dorong Kolaborasi Lawan Intoleransi0
- PRSI dan Kementerian ESDM Dorong Pengembangan SDM Energi Berbasis Robotika dan AI0
- Wamenkop: Koperasi Harus Masuk Sektor Produksi hingga Distribusi0
- Satreskrim Polresta Sidoarjo Ungkap Oplosan Gas 3 Kg ke 12 Kg, Dua Tersangka Diamankan0
- Haru di Juanda: Jamaah Haji Plus Jatim Resmi Berangkat ke Tanah Suci, Doa Keluarga Mengiringi0
Keberanian itu muncul setelah adanya laporan resmi serta pendampingan hukum dari Dodik Firmansyah. Orang tua korban lain kemudian mendatangi Kantor Hukum D’Firmansyah & Rekan di Jalan Jagalan 1 Nomor 16 Surabaya pada Selasa, 5 Mei 2026.
Menurut Dodik Firmansyah, terdapat tambahan empat korban anak yang diduga mengalami penganiayaan oleh Aipda Slamet Hutoyo. Mereka berinisial SW (14), HB (14), RA (14), dan MR (15), yang sebagian besar merupakan warga Kelurahan Pacar Kembang, Kecamatan Tambaksari.
“Para korban diduga mengalami kekerasan saat bermain bola di lingkungan kampung. Bahkan, dari keterangan orang tua, terduga pelaku juga sempat melontarkan ancaman,” ujar Dodik.
Ia menambahkan, korban mengalami trauma akibat dugaan kekerasan fisik dan verbal tersebut. Karena itu, para orang tua meminta pendampingan hukum agar kasus ini dapat dikawal hingga tuntas.
Dodik menegaskan, total korban kini mencapai delapan anak, sehingga kasus ini dinilai bukan tindak pidana biasa dan membutuhkan perhatian serius dari pihak kepolisian.
“Harapan para orang tua, pelaku diberikan sanksi tegas hingga pemecatan dari institusi Polri. Kami juga meminta Kapolres Tanjung Perak memberikan atensi khusus terhadap kasus ini,” tegasnya.
Peristiwa dugaan penganiayaan tersebut terjadi pada Sabtu, 2 Mei 2026 sekitar pukul 22.30 WIB di kawasan Pacar Kembang, Tambaksari, Surabaya. Saat itu, empat anak sedang bermain bola di gang kampung, dan bola mereka tidak sengaja mengenai pagar rumah warga.
Tak lama kemudian, Aipda Slamet Hutoyo keluar rumah dan diduga melempar paving ke arah anak-anak tersebut. Setelah lemparannya meleset, ia mendatangi para korban dan diduga melakukan penganiayaan.
Akibat kejadian itu, para korban mengalami luka memar di bagian kepala. Orang tua yang tidak terima kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polrestabes Surabaya pada 3 Mei 2026.
Kasus ini kini menjadi sorotan publik dan diharapkan mendapat penanganan transparan serta tegas dari aparat penegak hukum.(R/BN).
_-_Copy.png)









_(1).png)
