Wali Kota Jakarta Pusat Gerak Cepat, Takziah ke Rumah Duka Korban Tabrakan Kereta di Stasiun Bekasi Timur

By Agung Nugroho 28 Apr 2026, 19:43:32 WIB DKI Jakarta
Wali Kota Jakarta Pusat Gerak Cepat, Takziah ke Rumah Duka Korban Tabrakan Kereta di Stasiun Bekasi Timur

Keterangan Gambar : Wali Kota Jakpus, Arifin Takziah Ke Rumah Duka Korban Tabrakan Kereta Di Stasiun Bekasi Timur


JAKARTA– Duka belum reda, tetapi respons pemerintah mulai terlihat. Wali Kota Jakarta Pusat, Arifin bergerak cepat mendatangi rumah duka salah satu korban insiden tabrakan kereta di Stasiun Bekasi Timur, Senin malam (27/4/2026). Kehadirannya bukan sekadar formalitas, melainkan penegasan bahwa negara harus hadir saat warganya terpukul.

Korban diketahui merupakan warga Jakarta Pusat, tepatnya dari Kelurahan Utan Panjang, Kecamatan Kemayoran. Semasa hidupnya, almarhumah dikenal aktif sebagai anggota PKK dan kader jumantik, dua peran yang kerap luput dari sorotan, namun menjadi tulang punggung kesehatan dan ketahanan sosial di tingkat lingkungan.

Dalam suasana haru, wali kota menyampaikan belasungkawa langsung kepada keluarga. Ia menegaskan bahwa almarhumah bukan hanya bagian dari keluarga, tetapi juga aset sosial yang selama ini bekerja senyap menjaga kualitas hidup warga sekitar.

Baca Lainnya :

“Beliau mengabdi tanpa banyak suara. Tapi dampaknya nyata. Kehilangan ini bukan hanya milik keluarga, tapi juga milik masyarakat Jakarta Pusat,” ujar Arifin.

Kehadiran ini juga diikuti komitmen konkret dari pemerintah kota untuk memastikan keluarga korban mendapatkan pendampingan, mulai dari administrasi hingga akses bantuan yang menjadi haknya. Pemerintah, kata dia, tidak boleh hanya hadir saat seremoni, tetapi juga dalam proses pemulihan.

Di tengah sorotan publik terhadap keselamatan transportasi, langkah cepat ini menjadi penting. Namun, empati saja tidak cukup. Tragedi ini kembali mengingatkan bahwa keselamatan warga adalah tanggung jawab yang tidak bisa ditawar.

Di rumah duka, pelayat terus berdatangan. Warga mengenang almarhumah sebagai sosok sederhana yang aktif di kegiatan PKK dan jumantik—pekerjaan sunyi yang sering kali tidak terlihat, tapi menjaga banyak nyawa.

Doa mengalir, duka menggantung. Dan di balik semua itu, ada harapan yang sama: tragedi seperti ini tidak boleh menjadi cerita berulang.