- Ilhamsyah Buka Suara di Rakernas Jarnasindo: Indonesia Emas 2045 Harus Berpihak pada Rakyat dan Buruh
- Berikut Panduan Praktis Memulai Usaha bagi Pemula
- Sri Asih, Perempuan Tangguh di Balik Layanan AgenBRILink, Permudah Transaksi Warga Kutoarjo
- KAI Logistik Rampungkan Pengiriman 8 Unit KRL dari Banyuwangi ke Kalimas
- Gods within Her: Generasi Muda Vietnam di Tengah Milan Fashion Week
- Kementerian UMKM dan Barantin Berkolaborasi Permudah Akses Pasar Ekspor UMKM
- Dokter Citra Poerwa: Stres Finansial Bisa Berdampak pada Kesehatan Fisik dan Mental
- Telkom AI Center Dukung AI Hackathon Aceh 2026, Dorong Inovasi Digital Berbasis AI di Kalangan Mahasiswa
- Jakarta Financial Festival 2026 Sukses, 1.000 Rekening Baru Dibuka
- Membawa Kehangatan ke Kota Pahlawan, Scandia Hadir di PRJ Surabaya 2026
Gugum : Iran Mampu Hadapi Perang Panjang, AS-Israel Hadapi Risiko Konflik Berlarut

Keterangan Gambar : Ilustrasi Ketahan Iran Dalam Perang
JAKARTA — Pengamat politik Timur Tengah sekaligus aktivis KOMRAD 98, Gugum Awit Ramdhani, menilai Iran memiliki kapasitas untuk menghadapi konflik jangka panjang jika terjadi eskalasi militer dengan Amerika Serikat dan Israel.
Pernyataan itu merespons pengakuan seorang jenderal Amerika Serikat yang menyebut Iran dapat bertahan dalam perang selama bertahun-tahun.
“Iran bukan aktor yang bisa dilumpuhkan dalam waktu singkat. Ada kesiapan struktural untuk menghadapi konflik jangka panjang,” kata Gugum, Rabu, 25 Maret 2026.
Baca Lainnya :
- IRGC Tantang Kapal Perang AS, Pengamat: Bentuk Perlawanan atas Tekanan Geopolitik0
- Bayang-Bayang Perang Timur Tengah0
- Israel, Korea Utara, dan Bahasa Politik Global0
- Netanyahu dan Arah Politik Luar Negeri Amerika0
- Iran Kecam Serangan AS dan Israel, Pengamat Nilai Berisiko Picu Eskalasi Regional0
Menurut Gugum, Iran tidak mengandalkan strategi perang cepat. Negara tersebut justru menyiapkan diri untuk menghadapi perang dengan durasi panjang.
Kesiapan itu, kata dia, ditopang oleh kemandirian industri militer serta pengalaman menghadapi tekanan dan sanksi internasional.
“Iran terbiasa dengan tekanan eksternal. Itu membentuk daya tahan, baik secara ekonomi maupun militer,” ujarnya.
Gugum menilai pengalaman Perang Vietnam dan Perang Afghanistan menunjukkan bahwa keunggulan militer tidak selalu berujung pada kemenangan cepat bagi Amerika Serikat.
“Perang panjang justru menjadi tantangan utama. Biaya meningkat, tekanan politik dalam negeri juga menguat,” kata dia.
Ia menambahkan, konflik dengan Iran berpotensi meluas ke berbagai kawasan di Timur Tengah.
Pengaruh Iran di Irak dan Yaman dinilai membuka kemungkinan terjadinya konflik di banyak titik secara bersamaan.
“Situasi ini berisiko menciptakan konflik multi-front yang kompleks,” ujar Gugum.
Selain aspek militer, Gugum menyoroti faktor biaya sebagai variabel penting dalam konflik modern.
Menurut dia, penggunaan sistem pertahanan berbiaya tinggi harus dihadapkan dengan ancaman berbiaya rendah, seperti drone.
“Ketimpangan ini bisa menjadi beban serius jika konflik berlangsung lama,” katanya.
Gugum menegaskan bahwa potensi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel tidak dapat disamakan dengan intervensi militer sebelumnya di kawasan.
“Iran memiliki struktur negara yang relatif solid dan jaringan regional yang luas. Ini membuat skenario perang cepat sulit terwujud,” ucap dia.
Menurut Gugum, pernyataan jenderal Amerika Serikat tersebut menjadi indikator bahwa konflik dengan Iran berpotensi berlangsung lama dan penuh kompleksitas.
“Yang menjadi pertanyaan bukan hanya soal kekuatan, tetapi juga daya tahan dalam menghadapi konflik berkepanjangan,” kata dia.
_-_Copy.png)









_(1).png)
