- Heikal Safar Sampaikan Sebanyak 373 Pengurus Taman Iskandar Muda Periode 2026-2030. Telah Resmi Dilantik
- Tekan Angka Kecelakaan, Polda Jabar Gencarkan Operasi Patuh Lodaya 2026
- Membangun Kepercayaan di Tengah Pertumbuhan Ekonomi AI Indonesia
- Pertamina Foundation Hadirkan Daycare Bumi Patra Simprug, Wujudkan Lingkungan Kerja Ramah Keluarga
- BRI BO Yogyakarta Cik Ditiro Hadirkan BRICafe, Layanan Perbankan dan Kafe dalam Satu Ruang
- Perkuat Inovasi dan Layanan Digital, Bank Raya Perluas Percepatan Inklusi Keuangan Digital di Indonesia
- Ilhamsyah Buka Suara di Rakernas Jarnasindo: Indonesia Emas 2045 Harus Berpihak pada Rakyat dan Buruh
- Berikut Panduan Praktis Memulai Usaha bagi Pemula
- Sri Asih, Perempuan Tangguh di Balik Layanan AgenBRILink, Permudah Transaksi Warga Kutoarjo
- KAI Logistik Rampungkan Pengiriman 8 Unit KRL dari Banyuwangi ke Kalimas
Horor Romantis Berlatar Korea, Film Tolong Saya(Dowajuseyo) Angkat Kisah Arwah Pencari Keadilan

Keterangan Gambar : Rilis & Dialog film tolong saya (Dowajuseyo) di FX Sudirman, Jakarta, Kamis ( 15/01)
Bernusa.com, JAKARTA, — Industri perfilman Indonesia kembali menghadirkan warna baru melalui film Tolong Saya atau DOWAJUSEYO), sebuah karya horor-romantis yang memadukan unsur budaya Indonesia dan Korea Selatan. Film ini menjadi produksi perdana Heart Pictures, rumah produksi baru Tanah Air yang berani mengeksplorasi sinema lintas budaya.
Perilisan film tersebut digelar di CGV Sudirman, Studio 2, Jakarta Selatan, Kamis (15/1/2026). Acara ini juga dirangkai dengan dialog budaya bertema “Mitos Horor Korea dalam Film Tolong Saya”, yang menghadirkan akademisi dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI).
Gabungan Horor, Budaya, dan Romantika
Baca Lainnya :
- Syuting Langsung di Korea, Saskia Chadwick Buka Babak Baru Karier Internasional0
- Saskia Chadwick Dijuluki The Next Ratu Horor Indonesia, Bersinar di Film Kolaborasi Korea0
- Kim Geba alias Bung Korea Jalani Debut Akting di Film Indonesia TOLONG SAYA!0
- Tampil di JMFW 2026, 19 Siswa Islamic Fashion Institute Buktikan Kreativitas Anak Bangsa0
Produser film, Herty Purba, mengungkapkan bahwa ide produksi film layar lebar ini berangkat dari perubahan lanskap industri hiburan, di mana televisi dinilai mulai kehilangan daya tarik seiring kuatnya penetrasi media sosial.
“Genre horor masih sangat diminati, baik di Indonesia maupun Korea Selatan. Kami mencoba menghadirkan pendekatan berbeda dengan memadukan horor dan drama cinta khas Korea,” ujar Herty.
Ia menambahkan, besarnya basis penggemar drama Korea di Indonesia mulai dari remaja hingga ibu rumah tangga menjadi peluang besar untuk menghadirkan film dengan konsep lintas negara, baik dari sisi cerita maupun pemain.
Angkat Isu Kekerasan terhadap Perempuan
Tak sekadar mengandalkan teror, Tolong Saya juga mengangkat isu serius tentang kekerasan terhadap perempuan.
Film ini berkisah tentang Tania, mahasiswi Indonesia yang tengah menempuh studi di Korea Selatan, yang hidupnya berubah setelah mengalami teror dan kerasukan arwah Min Young, korban kekerasan seksual yang tewas secara misterius.
Tania kemudian terlibat dalam upaya mengungkap kematian Min Young bersama Dr. Park Min Jae dan sahabatnya, Sherly. Konflik semakin kompleks dengan kehadiran Dion, cinta pertama Tania, yang berubah menjadi sosok obsesif dan penghalang dalam misi pencarian kebenaran.
Alur tersebut menjadikan Tolong Saya sebagai film horor dengan sentuhan romantis dan psikologis yang kuat.
Adegan Ikonik dan Latar Dua Negara
Salah satu adegan yang mencuri perhatian adalah saat Tania kerasukan dan melontarkan dialog emosional dalam bahasa Korea, sebuah elemen yang jarang ditemui dalam film horor Indonesia.
Film ini juga memanfaatkan lokasi pengambilan gambar di Korea Selatan dan Indonesia, memperkuat nuansa lintas budaya yang diusung.
Adapun para pemain yang terlibat antara lain Saskia Chadwick, Kim Geba, Cinta Brian, Dito Darmawan, dan Aruma Khadijah.

Siap Tayang Akhir Januari 2026
Disutradarai oleh Nur Muhammad Taufik dan Sjahfasyat Bianca, Tolong Saya dijadwalkan tayang serentak di bioskop mulai 29 Januari 2026.
Herty berharap film ini dapat membuka peluang baru bagi produksi film Indonesia yang berani mengeksplorasi mitologi dan budaya lintas negara.
“Ini baru awal. Masih banyak mitologi dan kisah gaib Korea yang menarik untuk dieksplorasi ke depannya,” pungkasnya.(AS/BN).
_-_Copy.png)









_(1).png)
