- Infrastruktur Terus Dikebut, TMMD Depok Optimistis Selesai Tepat Waktu
- RSUD Tarakan Menuju 39 Tahun: Menguat di Tengah Lonjakan Layanan Kesehatan Ibu Kota
- Makalah Sedekah dan Hibah Tugas Kampus Alhikmah Jakarta
- Menhan Sjafrie Menerima Kunjungan Pejabat Baru dari Kedubes Palestina, Perkuat Kerja Sama
- Kado Bulan K3, Menaker Gratiskan Pembinaan Ahli K3 Umum
- Kemnaker Siapkan Penguatan Hubungan Industrial 2026: Kerja Tenang, Usaha Pasti
- Belum Genap 2 Bulan, Jalan Aspal BKKD Rp1,8 Miliar di Desa Ngampal Sumberrejo Bojonegoro Sudah Tambal Sulam
- Menkop: Ekspor Manggis Oleh Koperasi Produsen Upland Subang Farm Bukti Koperasi Jadi Penggerak Ekonomi Desa
- August PSI Kritik Langkah Pramono Impor 3.100 Sapi Dari Australia
- Relawan ILS Berencana Menambal Jalan Berlubang di Kemasan Krian
Kementan Fokus Modernisasi SDM, Penelitian UNM Ungkap Kelemahan Evaluasi Pelatihan Teknis

Keterangan Gambar : Andi Amal Hayat Makmur
BERNUSA.COM, Makassar,— Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) pertanian menjadi fokus penting Pemerintah Indonesia di tengah meningkatnya tuntutan global terhadap produktivitas dan ketahanan pangan. Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat sektor pertanian melalui pelatihan vokasional sebagai strategi kunci peningkatan kompetensi.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa swasembada pangan dan modernisasi pertanian hanya dapat dicapai melalui penguatan kualitas SDM.
“SDM adalah elemen krusial dalam pembangunan pertanian. Kita bertanggung jawab mencetak SDM berkualitas dan kompeten,” tegas Amran.
Baca Lainnya :
- Pemberitaan Tempo Sejalan dengan Kepentingan Mafia Pangan, Sekutukah?0
- Pengamat pangan Debi Syahputra: Putusan PN Jaksel Fakta Fitnah Tempo Soal Pembungkaman Pers Tidak Terbukti0
- Mentan Amran: Bela Kementerian dan Petani, Bukan Pribadi Saya0
- Soal Gugatan ke Tempo, Hasan Nasbi: Ini Bukan Kriminalisasi, Tapi Hak Konstitusional0
- Kementan Tegaskan Tak Kriminalisasi Tempo, Hanya Uji Profesionalisme Lewat Jalur Hukum0
Ia menambahkan bahwa peningkatan kompetensi merupakan syarat utama dalam mendongkrak produktivitas dan kualitas pertanian nasional.
“Kemajuan pertanian kita sangat bergantung pada kemampuan dan kompetensi SDM. Karena itu, kami berkomitmen meningkatkan kemampuan SDM melalui pelatihan dan pendidikan berkualitas,” ujar Mentan.
Peneliti UNM Kembangkan Model Evaluasi Pelatihan Pertanian
Di tengah komitmen tersebut, Andi Amal Hayat Makmur, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Makassar (UNM) sekaligus Ketua Kelompok Substansi Penyelenggaraan Pelatihan BPPSDMP Kementan, mendorong penyempurnaan model evaluasi pelatihan untuk meningkatkan efektivitas pendidikan vokasional di sektor pertanian.
Gagasannya dituangkan dalam disertasi berjudul “Pengembangan Model Evaluasi Peserta Pelatihan Pertanian (Studi Pelatihan Teknis Operator Traktor Roda 2)”, yang telah disahkan oleh Promotor Prof. Dr. Syahrul, M.Pd., dan Ko-Promotor Prof. Dr. Purnamawati, M.Pd.
Menurut Andi Amal, pelatihan harus menjadi instrumen peningkatan kapasitas kerja secara menyeluruh.
“Peningkatan kualitas SDM adalah faktor penentu percepatan pembangunan. Pelatihan harus mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja,” jelasnya.
Evaluasi Pelatihan Dinilai Terlalu Berbasis Tes Tertulis
Dalam penelitiannya, Andi Amal menemukan bahwa pelatihan vokasional Kementan melalui berbagai UPT masih terlalu menekankan evaluasi secara teoretis melalui pre-test dan post-test.
Padahal, pelatihan teknis—seperti operator traktor roda dua—membutuhkan penilaian keterampilan praktik yang sistematis.
“Keterampilan tidak diukur secara sistematis. Rencana pembelajaran masih bersifat generik dan belum berbasis hasil evaluasi awal,” ungkapnya.
Ia menilai kondisi ini menjadi hambatan bagi pencetakan tenaga kerja pertanian yang profesional, adaptif, dan berdaya saing tinggi.
Dorong Model Evaluasi Komprehensif dan Aplikatif
Melalui penelitian ini, Andi Amal menawarkan model evaluasi yang lebih komprehensif dengan mengukur aspek kognitif sekaligus psikomotorik. Model yang dikembangkan bukan untuk mengubah substansi pelatihan, melainkan menyempurnakan bagian yang masih lemah.
“Tujuan akhirnya menyediakan pedoman evaluasi yang jelas, sistematis, dan aplikatif,” ujarnya.
Ia berharap model evaluasi tersebut dapat menjadi standar bagi UPT Pelatihan Kementan di seluruh Indonesia.
Kontribusi untuk Modernisasi Pertanian
Andi Amal menyebut bahwa langkah Kementan dalam mengembangkan kurikulum berbasis kompetensi sudah berada pada jalur yang tepat. Oleh karena itu, penyempurnaan evaluasi menjadi bagian penting dalam mencetak SDM pertanian yang siap menghadapi tantangan modernisasi pertanian nasional.
“Harapan saya, hasil penelitian ini dapat membantu pemerintah dan lembaga pelatihan memastikan bahwa setiap peserta benar-benar memiliki kompetensi sesuai standar,” tutupnya. (AS/BN).
_-_Copy.png)






_(1).png)

.jpg)

