- Ilhamsyah Buka Suara di Rakernas Jarnasindo: Indonesia Emas 2045 Harus Berpihak pada Rakyat dan Buruh
- Berikut Panduan Praktis Memulai Usaha bagi Pemula
- Sri Asih, Perempuan Tangguh di Balik Layanan AgenBRILink, Permudah Transaksi Warga Kutoarjo
- KAI Logistik Rampungkan Pengiriman 8 Unit KRL dari Banyuwangi ke Kalimas
- Gods within Her: Generasi Muda Vietnam di Tengah Milan Fashion Week
- Kementerian UMKM dan Barantin Berkolaborasi Permudah Akses Pasar Ekspor UMKM
- Dokter Citra Poerwa: Stres Finansial Bisa Berdampak pada Kesehatan Fisik dan Mental
- Telkom AI Center Dukung AI Hackathon Aceh 2026, Dorong Inovasi Digital Berbasis AI di Kalangan Mahasiswa
- Jakarta Financial Festival 2026 Sukses, 1.000 Rekening Baru Dibuka
- Membawa Kehangatan ke Kota Pahlawan, Scandia Hadir di PRJ Surabaya 2026
RSUD Tarakan Menuju 39 Tahun: Menguat di Tengah Lonjakan Layanan Kesehatan Ibu Kota

Keterangan Gambar : Agung Nugroho, Ketua Umum Rekan Indonesia
JAKARTA — Menjelang usia ke-39 pada 3 September 2026, RSUD Tarakan memperlihatkan konsistensinya sebagai rumah sakit rujukan tipe A di DKI Jakarta. Di tengah mobilitas jutaan warga dan arus rujukan dari wilayah penyangga, rumah sakit ini menangani ribuan kunjungan pasien setiap bulan, terutama pada layanan gawat darurat dan spesialis.
Sebagai rumah sakit rujukan tersier, RSUD Tarakan menerima pasien dengan kompleksitas tinggi, mulai dari kasus jantung akut, stroke, kanker, hingga tindakan bedah mayor. Ketersediaan cath lab, ruang operasi modern, serta unit perawatan intensif menjadi tulang punggung dalam menangani kasus-kasus kritis.
Ketua Umum Rekan Indonesia, Agung Nugroho, menilai peran RSUD Tarakan tidak bisa dilepaskan dari struktur sistem rujukan nasional.
Baca Lainnya :
“Rumah sakit tipe A berada di lapis akhir rujukan. Artinya, pasien yang datang umumnya sudah melalui fasilitas kesehatan tingkat pertama dan kedua. Kompleksitas kasusnya lebih tinggi dan membutuhkan respons cepat serta koordinasi antarspesialis,” ujar Agung.
Ia menambahkan, tantangan rumah sakit publik di kota besar bukan hanya pada volume pasien, tetapi juga keberlanjutan mutu layanan. Sebagian besar pasien RSUD Tarakan merupakan peserta Jaminan Kesehatan Nasional, sehingga rumah sakit harus menjaga keseimbangan antara fungsi sosial dan kualitas klinis.
Dalam beberapa tahun terakhir, penguatan sistem manajemen menjadi fokus pembenahan. Digitalisasi pendaftaran, pengelolaan antrean, hingga rekam medis elektronik diterapkan untuk mempercepat alur layanan. Upaya ini berdampak pada efisiensi waktu tunggu serta koordinasi antarunit pelayanan.
Di sisi infrastruktur, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus mendorong peningkatan kapasitas fasilitas dan sumber daya manusia. Langkah tersebut dinilai penting mengingat tren penyakit tidak menular seperti jantung dan stroke di wilayah perkotaan cenderung meningkat.
Menurut Agung, keberhasilan RSUD Tarakan menjaga standar layanan di tengah tekanan permintaan menjadi indikator ketahanan rumah sakit daerah. “Rumah sakit publik harus adaptif. RSUD Tarakan menunjukkan bahwa pembenahan sistem dan peningkatan kompetensi tenaga medis bisa berjalan beriringan,” katanya.
Menjelang usia 39 tahun, RSUD Tarakan bukan hanya mencatat pertambahan usia institusi. Rumah sakit ini berada dalam fase konsolidasi kapasitas, memperkuat perannya sebagai simpul utama layanan kesehatan Jakarta yang terus bergerak mengikuti kebutuhan warganya.
_-_Copy.png)









_(1).png)
