- Infrastruktur Terus Dikebut, TMMD Depok Optimistis Selesai Tepat Waktu
- RSUD Tarakan Menuju 39 Tahun: Menguat di Tengah Lonjakan Layanan Kesehatan Ibu Kota
- Makalah Sedekah dan Hibah Tugas Kampus Alhikmah Jakarta
- Menhan Sjafrie Menerima Kunjungan Pejabat Baru dari Kedubes Palestina, Perkuat Kerja Sama
- Kado Bulan K3, Menaker Gratiskan Pembinaan Ahli K3 Umum
- Kemnaker Siapkan Penguatan Hubungan Industrial 2026: Kerja Tenang, Usaha Pasti
- Belum Genap 2 Bulan, Jalan Aspal BKKD Rp1,8 Miliar di Desa Ngampal Sumberrejo Bojonegoro Sudah Tambal Sulam
- Menkop: Ekspor Manggis Oleh Koperasi Produsen Upland Subang Farm Bukti Koperasi Jadi Penggerak Ekonomi Desa
- August PSI Kritik Langkah Pramono Impor 3.100 Sapi Dari Australia
- Relawan ILS Berencana Menambal Jalan Berlubang di Kemasan Krian
RSUD Tarakan Menuju 39 Tahun: Menguat di Tengah Lonjakan Layanan Kesehatan Ibu Kota

Keterangan Gambar : Agung Nugroho, Ketua Umum Rekan Indonesia
JAKARTA — Menjelang usia ke-39 pada 3 September 2026, RSUD Tarakan memperlihatkan konsistensinya sebagai rumah sakit rujukan tipe A di DKI Jakarta. Di tengah mobilitas jutaan warga dan arus rujukan dari wilayah penyangga, rumah sakit ini menangani ribuan kunjungan pasien setiap bulan, terutama pada layanan gawat darurat dan spesialis.
Sebagai rumah sakit rujukan tersier, RSUD Tarakan menerima pasien dengan kompleksitas tinggi, mulai dari kasus jantung akut, stroke, kanker, hingga tindakan bedah mayor. Ketersediaan cath lab, ruang operasi modern, serta unit perawatan intensif menjadi tulang punggung dalam menangani kasus-kasus kritis.
Ketua Umum Rekan Indonesia, Agung Nugroho, menilai peran RSUD Tarakan tidak bisa dilepaskan dari struktur sistem rujukan nasional.
Baca Lainnya :
“Rumah sakit tipe A berada di lapis akhir rujukan. Artinya, pasien yang datang umumnya sudah melalui fasilitas kesehatan tingkat pertama dan kedua. Kompleksitas kasusnya lebih tinggi dan membutuhkan respons cepat serta koordinasi antarspesialis,” ujar Agung.
Ia menambahkan, tantangan rumah sakit publik di kota besar bukan hanya pada volume pasien, tetapi juga keberlanjutan mutu layanan. Sebagian besar pasien RSUD Tarakan merupakan peserta Jaminan Kesehatan Nasional, sehingga rumah sakit harus menjaga keseimbangan antara fungsi sosial dan kualitas klinis.
Dalam beberapa tahun terakhir, penguatan sistem manajemen menjadi fokus pembenahan. Digitalisasi pendaftaran, pengelolaan antrean, hingga rekam medis elektronik diterapkan untuk mempercepat alur layanan. Upaya ini berdampak pada efisiensi waktu tunggu serta koordinasi antarunit pelayanan.
Di sisi infrastruktur, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus mendorong peningkatan kapasitas fasilitas dan sumber daya manusia. Langkah tersebut dinilai penting mengingat tren penyakit tidak menular seperti jantung dan stroke di wilayah perkotaan cenderung meningkat.
Menurut Agung, keberhasilan RSUD Tarakan menjaga standar layanan di tengah tekanan permintaan menjadi indikator ketahanan rumah sakit daerah. “Rumah sakit publik harus adaptif. RSUD Tarakan menunjukkan bahwa pembenahan sistem dan peningkatan kompetensi tenaga medis bisa berjalan beriringan,” katanya.
Menjelang usia 39 tahun, RSUD Tarakan bukan hanya mencatat pertambahan usia institusi. Rumah sakit ini berada dalam fase konsolidasi kapasitas, memperkuat perannya sebagai simpul utama layanan kesehatan Jakarta yang terus bergerak mengikuti kebutuhan warganya.
_-_Copy.png)





_(1).png)

.jpg)

