- Perkuat Inovasi dan Layanan Digital, Bank Raya Perluas Percepatan Inklusi Keuangan Digital di Indonesia
- Ilhamsyah Buka Suara di Rakernas Jarnasindo: Indonesia Emas 2045 Harus Berpihak pada Rakyat dan Buruh
- Berikut Panduan Praktis Memulai Usaha bagi Pemula
- Sri Asih, Perempuan Tangguh di Balik Layanan AgenBRILink, Permudah Transaksi Warga Kutoarjo
- KAI Logistik Rampungkan Pengiriman 8 Unit KRL dari Banyuwangi ke Kalimas
- Gods within Her: Generasi Muda Vietnam di Tengah Milan Fashion Week
- Kementerian UMKM dan Barantin Berkolaborasi Permudah Akses Pasar Ekspor UMKM
- Dokter Citra Poerwa: Stres Finansial Bisa Berdampak pada Kesehatan Fisik dan Mental
- Telkom AI Center Dukung AI Hackathon Aceh 2026, Dorong Inovasi Digital Berbasis AI di Kalangan Mahasiswa
- Jakarta Financial Festival 2026 Sukses, 1.000 Rekening Baru Dibuka
Masyarakat Sabang Dukung Penuh Penyegelan Beras Impor Ilegal
.jpg)
Keterangan Gambar : aparat melakukan penyegelan kapal pengangkut, gudang penyimpanan, dan penyitaan 250 ton beras impor ilegal
BERNUSA.COM, Sabang Aceh, — Situasi Kota Sabang tetap aman dan kondusif setelah aparat melakukan penyegelan kapal pengangkut, gudang penyimpanan, dan penyitaan 250 ton beras impor ilegal pada minggu lalu. Tidak ada penolakan atau gejolak di tengah masyarakat, justru dukungan mengalir terhadap langkah tegas pemerintah dalam menertibkan praktik impor tanpa izin.
Seorang warga Sabang yang enggan disebutkan namanya menyampaikan apresiasinya atas tindakan aparat.
“Alhamdulillah, kami mendukung banget operasi ini. Dari dulu kita tahu ada beras-beras yang masuk tidak sesuai prosedur. Kalau dibiarkan, petani kita di Aceh dan Sumut yang rugi. Jadi kami justru berterima kasih kepada aparat yang berani bertindak tegas,” ujarnya.
Baca Lainnya :
- 45.000 Peserta Hadiri Apel Nasional PPL, Mentan Tekankan Transparansi Bantuan dan Respons Cepat Lapangan0
- Kementan Fokus Modernisasi SDM, Penelitian UNM Ungkap Kelemahan Evaluasi Pelatihan Teknis0
- Pemberitaan Tempo Sejalan dengan Kepentingan Mafia Pangan, Sekutukah?0
- Pengamat pangan Debi Syahputra: Putusan PN Jaksel Fakta Fitnah Tempo Soal Pembungkaman Pers Tidak Terbukti0
- Mentan Amran: Bela Kementerian dan Petani, Bukan Pribadi Saya0
Warga lain di sekitar pelabuhan dan gudang pun menyampaikan hal serupa. Menurut mereka, suasana tetap tenang tanpa adanya demo atau penolakan, bahkan banyak yang memberi acungan jempol atas penyegelan tersebut.
Fokus Publik Masih pada Banjir Bandang di Aceh
Saat ini masyarakat Aceh justru lebih menyoroti musibah banjir bandang yang melanda sejumlah kabupaten. Karena itu, isu beras impor ilegal ini tidak menimbulkan kegaduhan ataupun keresahan publik. Proses hukum terhadap pelaku impor ilegal pun berjalan lancar dan mendapat dukungan masyarakat.
Seorang petani asal Aceh Besar, Teungku Junaidi (bukan nama sebenarnya), menyampaikan rasa syukurnya.
“Alhamdulillah kami petani mendukung penahanan beras impor ini. Stok beras di Aceh sedang melimpah, harga gabah bagus, dan kami baru masuk masa tanam. Kalau beras luar masuk seenaknya, harga gabah pasti jatuh lagi. Terima kasih kepada pemerintah dan aparat yang melindungi kami,” ujarnya.

Pemerintah Tegas: Tidak Ada Izin Impor Beras Sepanjang 2025
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), menegaskan bahwa pemerintah pusat tidak pernah mengeluarkan izin impor beras sepanjang tahun 2025.
“Kami marah betul, kok bisa masuk? 250 ton masuk enggak ada izinnya. Kita tidak pernah ada izin impor beras,” tegas Zulhas dalam acara pelantikan Apdesi di Gedung Kemendes, Jakarta, Selasa (25/11/2025).
Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai tindakan impor ilegal tersebut bertentangan dengan instruksi Presiden Prabowo yang menargetkan kedaulatan pangan nasional. Ia memastikan produksi beras dalam negeri tahun ini mencapai rekor tertinggi.
Asal Usul Kasus: Beras dari Thailand Masuk Lewat PT Multazam Sabang Group
Berdasarkan data, 250 ton beras ilegal tersebut berasal dari Thailand dan dimasukkan oleh PT Multazam Sabang Group tanpa persetujuan pemerintah pusat. Meski izin dari pihak Thailand sempat diterbitkan, pemerintah Indonesia sudah menolak rencana impor tersebut dalam Rakortek Kemenko Pangan pada 14 November 2025.
Alasan penolakan karena stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Aceh mencapai 94.888 ton, cukup hingga awal tahun 2026.
Direktorat Bea Cukai juga telah menegaskan bahwa mereka tidak pernah memberikan izin pemasukan beras ke kawasan bebas Sabang.
Dengan kuatnya dukungan masyarakat dan ketegasan pemerintah pusat, proses penegakan hukum diharapkan dapat menjadi pelajaran bagi pihak-pihak yang mencoba memanfaatkan celah impor untuk keuntungan pribadi.(AS/BN).
_-_Copy.png)









_(1).png)
