- Ratusan Buruh Kepung Kemenaker, Desak Pemerintah Hentikan Gelombang PHK Nasional
- Polres Gresik Libatkan Ratusan Personel Layanan Pengamanan Haul Habib Abu Bakar Assegaf ke-71
- IPDA Zulhamsyah Putra Resmi Dilantik, Sosok Polisi Humanis Kebanggaan Polda Kepri
- Bupati Pimpin Apel Pagi, Jadi Momentum Penguatan Kinerja Aparatur Dinas PUPR
- FGD Indeks Ketahanan Daerah 2026 Jadi Wadah Validasi Data Ketahanan Daerah
- Sertijab Walikota Jaksel, Syafrin Liputo: Kita Adalah Pelayan Masyarakat
- Humas Polres Lingga Bersama IJTI Kepri Ajak Santri Berkreasi Melalui Lomba Hari Bhayangkara ke-80
- Di Tengah Lonjakan Utang Global, SBY Tekankan Keseimbangan Pertumbuhan dan Keberlanjutan
- Kasus Nadiem dan Rasa Keadilan Publik
- Ketika Darurat (Buatan) Menjadi Kekuasaan (Tanpa Batas)
Pasien Tertahan di UGD Karena Ruang Penuh, Pendampingan Rekan Indonesia Bantu Percepatan Ranap

Keterangan Gambar : Ramin, Pengurus Rekan Indonesia Jakbar Saat Mendampingi Warga
Bernusa.com. JAKARTA— Seorang pasien dengan keluhan batuk disertai perdarahan sempat tertahan di ruang UGD RSUD Cengkareng akibat keterbatasan ruang rawat inap yang tersedia.
Pasien yang merupakan warga Cengkareng Timur tersebut datang ke rumah sakit pada Minggu malam, 11 Mei 2026, dan langsung mendapatkan penanganan medis dari tim dokter UGD. Setelah menjalani pemeriksaan darah dan rontgen, dokter menyarankan pasien untuk segera menjalani perawatan inap karena kondisi radang paru yang dialaminya.
Baca Lainnya :
- RSUD Tarakan Lakukan Terobosan Baru: Operasi Ligamen Lutut Canggih Kini Tak Lagi Milik Rumah Sakit Elit0
- Presiden Prabowo dan Menhub Dudy Temui Korban Insiden KA Bekasi Timur0
- Pasien Terlantar di IGD, Rekan Indonesia Soroti Ketidaksinkronan Data Kamar RSUD Jakarta Utara0
- RSUD Tarakan Menuju 39 Tahun: Menguat di Tengah Lonjakan Layanan Kesehatan Ibu Kota0
Namun, pihak keluarga mendapatkan informasi bahwa ruang rawat inap sedang dalam kondisi penuh sehingga pasien sementara masih menjalani observasi di ruang UGD.
Rianti, istri pasien, mengatakan bahwa keluarganya sempat khawatir karena kondisi pasien membutuhkan penanganan lanjutan secepatnya.
“Kami bersyukur suami saya langsung ditangani dengan baik saat tiba di UGD. Tapi kami juga cukup cemas karena ruang rawat inap penuh, sementara kondisi suami masih perlu pengawasan dokter,” ujar Rianti.
Melihat kondisi tersebut, keluarga kemudian berkoordinasi dengan pengurus REKAN Indonesia KPD Jakarta Barat untuk meminta pendampingan advokasi pelayanan kesehatan.
Pengurus REKAN Indonesia selanjutnya melakukan koordinasi dengan pihak rumah sakit serta jajaran Dinas Kesehatan agar pasien bisa segera mendapatkan ruang perawatan yang sesuai.
Ramin, Pengurus KPD REKAN Indonesia Jakarta Barat yang melakukan pendampingan, mengatakan bahwa advokasi dilakukan sebagai bentuk pendampingan kemanusiaan agar pasien memperoleh kepastian layanan kesehatan.
“Kami membantu menjembatani komunikasi antara keluarga pasien dengan pihak terkait agar penanganan dapat berjalan lebih cepat dan pasien memperoleh hak pelayanan kesehatan secara optimal,” kata Ramin.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran tenaga kesehatan dan manajemen RSUD Cengkareng yang dinilai tetap responsif dalam memberikan pelayanan kepada pasien di tengah keterbatasan kapasitas ruang rawat inap.
“Kami mengapresiasi pihak RSUD Cengkareng karena sejak awal pasien sudah mendapatkan penanganan medis dengan baik di UGD. Koordinasi yang dilakukan juga berjalan cukup responsif hingga akhirnya pasien bisa mendapatkan ruang rawat inap,” tambahnya.
Setelah proses koordinasi dilakukan, pasien akhirnya dipindahkan ke ruang rawat inap isolasi pada Senin pagi, 12 Mei 2026, sekitar pukul 06.00 WIB untuk menjalani penanganan lebih lanjut.
Peristiwa ini kembali menunjukkan pentingnya koordinasi cepat antara keluarga pasien, fasilitas kesehatan, dan unsur pendamping masyarakat dalam memastikan akses layanan kesehatan tetap berjalan, terutama saat rumah sakit menghadapi keterbatasan kapasitas ruang perawatan.
_-_Copy.png)




.jpg)



_(1).png)

