Percepatan Jaringan Pipa PAM Jaya Dinilai Tepat

By Agung Nugroho 02 Apr 2026, 10:44:28 WIB DKI Jakarta
Percepatan Jaringan Pipa PAM Jaya Dinilai Tepat

Keterangan Gambar : Agung Nugroho, Direktur Jakarta Institute


JAKARTA — Langkah percepatan pembangunan jaringan air perpipaan oleh PAM Jaya dinilai sebagai kebijakan strategis dalam menjawab persoalan klasik Jakarta: krisis air bersih dan ketergantungan pada air tanah.

Direktur Jakarta Institute, Agung Nugroho, menilai proyek yang tengah berjalan tidak bisa dipandang semata sebagai pembangunan infrastruktur fisik. Lebih dari itu, upaya ini merupakan bagian dari transformasi mendasar sistem layanan air di ibu kota.

“Ini bukan sekadar ekspansi jaringan, tapi upaya jangka panjang untuk mengurangi eksploitasi air tanah sekaligus menjaga keberlanjutan kota,” ujar Agung dalam keterangannya, Jumat.

Baca Lainnya :

Ia menjelaskan, penggunaan air tanah yang masif selama ini telah berkontribusi pada penurunan muka tanah dan memperbesar risiko banjir. Dalam konteks tersebut, percepatan pembangunan jaringan perpipaan menjadi langkah yang tidak hanya relevan, tetapi juga mendesak.

Di tengah proses percepatan, Agung melihat adanya indikasi bahwa PAM Jaya tetap berupaya menjaga kualitas pelaksanaan proyek. Penguatan pengawasan serta penegasan standar operasional disebut menjadi sinyal bahwa pembangunan tidak dilakukan secara serampangan.

Terkait insiden di kawasan Condet, Jakarta Timur, ia menilai peristiwa tersebut perlu dilihat secara proporsional sebagai bagian dari dinamika proyek berskala besar.

“Dalam proyek sebesar ini, tantangan di lapangan tidak bisa dihindari. Yang menjadi kunci adalah bagaimana respons dan langkah perbaikannya dilakukan secara cepat dan terukur,” katanya.

Menurut Agung, sejauh ini terdapat upaya evaluasi yang cukup jelas, termasuk penguatan pengawasan terhadap mitra kerja. Hal ini menunjukkan bahwa aspek keselamatan tetap menjadi perhatian dalam pelaksanaan proyek.

Ia menegaskan, pembangunan jaringan perpipaan tidak hanya soal mengejar target cakupan layanan, tetapi juga menyangkut pembangunan kepercayaan publik.

“Target bisa dikejar, tetapi keselamatan tidak boleh dikompromikan. Kepercayaan publik lahir dari konsistensi menjaga itu,” ujarnya.

Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa percepatan pembangunan infrastruktur hampir selalu membawa dampak sementara di ruang publik, seperti pekerjaan galian dan gangguan aktivitas warga. Namun, hal tersebut dinilai sebagai bagian dari fase transisi menuju sistem layanan yang lebih baik.

Belajar dari pengalaman berbagai kota besar, transformasi layanan air bersih memang tidak pernah berlangsung tanpa tantangan. Keberhasilan, kata dia, sangat ditentukan oleh konsistensi dalam menjaga standar serta kemampuan merespons persoalan di lapangan.

“Arah kebijakan PAM Jaya sudah berada di jalur yang tepat. Dengan pengawasan yang diperkuat dan komitmen terhadap keselamatan, pembangunan ini punya fondasi yang cukup kuat untuk terus mendapatkan kepercayaan publik,” kata Agung.