- Polres Gresik Libatkan Ratusan Personel Layanan Pengamanan Haul Habib Abu Bakar Assegaf ke-71
- IPDA Zulhamsyah Putra Resmi Dilantik, Sosok Polisi Humanis Kebanggaan Polda Kepri
- Bupati Pimpin Apel Pagi, Jadi Momentum Penguatan Kinerja Aparatur Dinas PUPR
- FGD Indeks Ketahanan Daerah 2026 Jadi Wadah Validasi Data Ketahanan Daerah
- Sertijab Walikota Jaksel, Syafrin Liputo: Kita Adalah Pelayan Masyarakat
- Humas Polres Lingga Bersama IJTI Kepri Ajak Santri Berkreasi Melalui Lomba Hari Bhayangkara ke-80
- Di Tengah Lonjakan Utang Global, SBY Tekankan Keseimbangan Pertumbuhan dan Keberlanjutan
- Kasus Nadiem dan Rasa Keadilan Publik
- Ketika Darurat (Buatan) Menjadi Kekuasaan (Tanpa Batas)
- Generasi Baru Bulutangkis Indonesia Muncul, BNI dan PBSI Perkuat Pembinaan Atlet Berprestasi
Yusril Ihza Mahendra Singgung Potensi Ancaman AS terhadap Indonesia

Keterangan Gambar : Yusril Ihza Mahendra Singgung Potensi Ancaman AS terhadap Indonesia
Bernusa.com. JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Indonesia, Yusril Ihza Mahendra, menyinggung potensi ancaman geopolitik dari Amerika Serikat terhadap Indonesia dalam Seminar Nasional bertajuk Tantangan Regulasi dalam Menghadapi Gig Economy dan Artificial Intelligence pada Selasa (19/5/2026).
Dalam paparannya, Yusril menilai kepentingan geopolitik negara-negara besar saat ini sangat berkaitan dengan perebutan sumber energi dan sumber daya mineral strategis dunia. Ia mencontohkan langkah Amerika Serikat terhadap Venezuela sebagai bagian dari kepentingan tersebut.
Menurut Yusril, selain Greenland dan Venezuela, Indonesia juga dinilai memiliki potensi menjadi target kepentingan geopolitik Amerika Serikat karena kekayaan sumber daya alam yang dimiliki.
“Target selain Greenland, negara mana? Ya ini (Indonesia) yang dikejar,” ujar Yusril dalam seminar tersebut.
Baca Lainnya :
- Dari Yogyakarta, BNI Tegaskan Komitmen Jadi Bank Global Indonesia0
- IRGC Ancam AS dan Israel: Iran Belum Gunakan Seluruh Kekuatan Militernya0
- Ketua Umum GAWAT: Penangkapan Jurnalis Adalah Ancaman Serius terhadap Kebebasan Pers0
- PRSI Bangka Belitung Dorong Pendidikan Teknologi Lewat Bangka Robotic Competition 20260
- IHSG Anjlok Terdalam di Asia, Dasco Datangi BEI dan Bahas Strategi Pemulihan Pasar0
Ia juga menyinggung posisi strategis Indonesia di kawasan Asia Pasifik, termasuk kedekatan wilayah Guam dengan Papua yang menurutnya memiliki arti penting dalam kalkulasi pertahanan dan militer internasional.
Dalam pernyataannya, Yusril menilai Indonesia saat ini belum berada dalam kondisi siap menghadapi perang terbuka apabila terjadi konflik besar di kawasan.
“Dari Guam ke Papua cuma 6 jam, yang jadi pangkalan militer di Guam, kita dalam kondisi tidak siap perang. Hitung berapa kekuatan militer kita, kalau kita perang paling cuma bisa 4 hari,” kata Yusril.
Pada kesempatan itu, Yusril juga menegaskan pentingnya Indonesia tetap menjalankan politik luar negeri bebas aktif di tengah memanasnya situasi geopolitik global. Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi salah satu alasan Indonesia tidak mengambil sikap terlalu keras terhadap langkah Amerika Serikat di Venezuela.
Pernyataan Yusril tersebut memicu perhatian publik karena menyinggung langsung posisi strategis Indonesia dalam percaturan geopolitik internasional yang semakin memanas, terutama di kawasan Indo-Pasifik.
_-_Copy.png)



.jpg)




_(1).png)

