- Reza Rahadian, Wanda Hamidah, dan Zaskia Adya Mecca Hadir di Aksi Bundaran HI
- Dari Depot Yamie Ayam Anugerah, Ibu Lili Rasakan Kemudahan QRIS BRI
- Tekuk Panama 5-3, Timnas Indonesia U-15 Melaju ke Perempat Final
- Pramono Anung Teratas di Mata Anak Muda, Integritas Jadi Ujian Utama
- Bitcoin Terancam Merah Dua Bulan Beruntun, Peluang Rebound Masih Terbuka?
- Jumat, 30 Oktober 2026 BIMA, Bahas Strategi dan Peran Pemuda Menuju Indonesia Emas
- BRI Region 6 Berpartisipasi dalam Kick Off Sportartcular, Semarakkan Peringatan HUT ke-31 BRI
- Ketua Harian DPP Partai Ummat Heikal Safar Panen Raya Sekaligus Makan Siang Gratis Bersama Ratusan Petani Guna Ketahanan Pangan Nasional
- Netanyahu Terancam Kehilangan Mayoritas di Parlemen Israel
- Generasi Muda Vietnam Melangkah ke Panggung Global di Milan
Banyak Yang Mementingkan Gelar Dari Pada Keahlian atau Keterampilan

Keterangan Gambar : Safari Dakwah yang berlangsung di rumah kediaman Purek III Universitas Islam As Syafi’iyah, (UIA) DR. Misbah Fikrianto
BERNUSA.COM: Bekasi-Banyak orang yang lebih mementingkan gelar daripada keahlian atau keterampilan. Ini terjadi bukan saja di dunia akademik tetapi hampir di semua ranah kehidupan. Mereka marah jika gelarnya tidak disebutkan dalam acara resmi, atau tidak dituliskan dalam undangan.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus, Suparto, S.Ag., M.Ed., Ph.D. dalam Safari Dakwah yang berlangsung di rumah kediaman Purek III Universitas Islam As Syafi’iyah, (UIA) DR. Misbah Fikrianto, Komplek Graha Setia, Jati Cempaka, Pondok Gede, Sabtu 27 Juni 2026.
Safari Dakwah diselenggarakan oleh Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Pondok Gede, bertema“Pemuda Berkemajuan: Asik Gaulnya, Kuat Imannya”.
Baca Lainnya :
”Orang berhaji misalnya, ia merasa tersinggung jika tidak dipanggil Pak Haji atau Bu Hajjah sepulang dari Tanah Suci. Padahal haji itu bukan gelar, tapi ibadah,” ujar Suparto.
Sementara di ranah kebudayaan menurut Suparto juga demikian. Orang-orang senang dipanggil Raden, Tumenggung, Adipati dan lain sebagainya dalam upacara resmi atau tidak resmi. Termasuk dalam penulisan namanya di kartu undangan.
”Mereka merasa gelar tersebut sangat gagah ketika dipasang di depan atau di belakang namanya. Dia akan tersinggung jika gelar tersebut tidak dibacakan oleh pembawa acara,” tambah Suparto lagi.
Padahal, lanjut Suparto, untuk mendapatkan gelar tersebut cukup mengikuti upacara dan membayar sekian juta rupiah kepada penyelenggara. Jadi tidak penting apakah dia keturuna kraton atau tidak. Apakah dia berdarah biru atau tidak.
Yang paling menyedihkan, lanjut Suparto, terjadi di dunia akademik. Gelar akademik palsu diobral dengan harga murah sekali. Dan penyandang gelar palsu itu banyak.
”Baru-baru ini ada sebuah lembaga yang menyebut dirinya Universitas di Timur Tengah. Nama Universitasnya kreen, berbahasa Inggris pula. Dia menawarkan gelar Doktor Honoric Causa (DR. HC) cukup dengan membayar lima juta rupiah saja. Dan itu peminatnya cukup banyak,” heran Suparto.
Fenomena ini menurut Suparto merupakan sesuatu yang ganjil dan aneh. Orang lebih mementingkan gelar ketimbang ilmunya.
Dalam bagian lain tausiahnya Suparto menekankan pentingnya adab, terutama bagi kaum muda. Adab itu pondasi sebelum ilmu. Ulama terdahulu mengatakan, belajar adab dulu, baru belajar ilmu.
”Betapa pun tingginya ilmu yang dimiliki tetapi tidak mempunyai adab, maka ilmu tidak akan berkah,” ungkap Suparto.
Suparto juga mengingatkan kaum muda jangan Fomo (Fear of Missing Out) dalam pergaulan. Yakni merasa takut ketinggalan mode, merasa minder tidak mengikuti arus. Padahal belum tentu mode / tren itu baik dan positif.
_-_Copy.png)









_(1).png)
