- Kolaborasi Pemkab dan Polres Hadirkan Perayaan Meriah HUT ke 80 Bhayangkara
- Pemkot Surabaya Gandeng MUI kota Surabaya Sukseskan Bulan Imunisasi Anak Sekolah
- Banyak Yang Mementingkan Gelar Dari Pada Keahlian atau Keterampilan
- Film CLBK Siap Sentuh Hati Penonton dengan Romansa Usia Senja yang Menginspirasi
- Resmi Jadi Sayap Partai, Jurnalis dan Influencer Rakyat Indonesia Siap Kawal Informasi Berkualitas
- Heikal Safar Apresiasi Strategi Jitu Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Di Dukung Warga Jakarta
- Satpam Tumbang Usai Jaga Malam, Keluarga Panik Karena BPJS Tak Aktif, Rekan Indonesia Tangsel Turun Tangan
- Pemilik SPPG Dan Dapur MBG Jangan Ganggu Presiden Evaluasi Total MBG.
- Tak Hanya Cantik, 10 Finalis Miss Jakarta Fair 2026 Tunjukkan Bakat dan Kepercayaan Diri
- Bank Jakarta Borong Tiga Penghargaan Infobank-MRI 2026, Bukti Layanan Nasabah Makin Prima
Banyak Yang Mementingkan Gelar Dari Pada Keahlian atau Keterampilan

Keterangan Gambar : Safari Dakwah yang berlangsung di rumah kediaman Purek III Universitas Islam As Syafi’iyah, (UIA) DR. Misbah Fikrianto
BERNUSA.COM: Bekasi-Banyak orang yang lebih mementingkan gelar daripada keahlian atau keterampilan. Ini terjadi bukan saja di dunia akademik tetapi hampir di semua ranah kehidupan. Mereka marah jika gelarnya tidak disebutkan dalam acara resmi, atau tidak dituliskan dalam undangan.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus, Suparto, S.Ag., M.Ed., Ph.D. dalam Safari Dakwah yang berlangsung di rumah kediaman Purek III Universitas Islam As Syafi’iyah, (UIA) DR. Misbah Fikrianto, Komplek Graha Setia, Jati Cempaka, Pondok Gede, Sabtu 27 Juni 2026.
Safari Dakwah diselenggarakan oleh Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Pondok Gede, bertema“Pemuda Berkemajuan: Asik Gaulnya, Kuat Imannya”.
Baca Lainnya :
”Orang berhaji misalnya, ia merasa tersinggung jika tidak dipanggil Pak Haji atau Bu Hajjah sepulang dari Tanah Suci. Padahal haji itu bukan gelar, tapi ibadah,” ujar Suparto.
Sementara di ranah kebudayaan menurut Suparto juga demikian. Orang-orang senang dipanggil Raden, Tumenggung, Adipati dan lain sebagainya dalam upacara resmi atau tidak resmi. Termasuk dalam penulisan namanya di kartu undangan.
”Mereka merasa gelar tersebut sangat gagah ketika dipasang di depan atau di belakang namanya. Dia akan tersinggung jika gelar tersebut tidak dibacakan oleh pembawa acara,” tambah Suparto lagi.
Padahal, lanjut Suparto, untuk mendapatkan gelar tersebut cukup mengikuti upacara dan membayar sekian juta rupiah kepada penyelenggara. Jadi tidak penting apakah dia keturuna kraton atau tidak. Apakah dia berdarah biru atau tidak.
Yang paling menyedihkan, lanjut Suparto, terjadi di dunia akademik. Gelar akademik palsu diobral dengan harga murah sekali. Dan penyandang gelar palsu itu banyak.
”Baru-baru ini ada sebuah lembaga yang menyebut dirinya Universitas di Timur Tengah. Nama Universitasnya kreen, berbahasa Inggris pula. Dia menawarkan gelar Doktor Honoric Causa (DR. HC) cukup dengan membayar lima juta rupiah saja. Dan itu peminatnya cukup banyak,” heran Suparto.
Fenomena ini menurut Suparto merupakan sesuatu yang ganjil dan aneh. Orang lebih mementingkan gelar ketimbang ilmunya.
Dalam bagian lain tausiahnya Suparto menekankan pentingnya adab, terutama bagi kaum muda. Adab itu pondasi sebelum ilmu. Ulama terdahulu mengatakan, belajar adab dulu, baru belajar ilmu.
”Betapa pun tingginya ilmu yang dimiliki tetapi tidak mempunyai adab, maka ilmu tidak akan berkah,” ungkap Suparto.
Suparto juga mengingatkan kaum muda jangan Fomo (Fear of Missing Out) dalam pergaulan. Yakni merasa takut ketinggalan mode, merasa minder tidak mengikuti arus. Padahal belum tentu mode / tren itu baik dan positif.
_-_Copy.png)








_(1).png)

