Budi Mulyawan Ajak Komunitas Film Pendek Se-Jawa Bali Berkolaborasi Di JMFF Tahun 2026

By Ichsan 11 Jan 2026, 20:21:14 WIB Seleb
Budi Mulyawan Ajak Komunitas Film Pendek Se-Jawa Bali Berkolaborasi Di JMFF Tahun 2026

JAKARTA, - JMFF (Jakarta Millennial Film Festival) tahun 2026 resmi dipersiapkan sebagai ajang pembinaan dan apresiasi bagi sineas muda melalui film pendek. Festival ini diselenggarakan oleh Jaya Center Foundation dengan dukungan Badan Perfilman Indonesia (BPI) dan akan melibatkan komunitas film pendek dari wilayah Jawa dan Bali.

Pendiri Jaya Center Foundation sekaligus penggagas festival, Budi Mulyawan, menegaskan bahwa Jakarta Millennial Film Festival 2026 dirancang bukan sekadar kompetisi, tetapi sebagai ruang bersama untuk memperkuat ekosistem perfilman nasional berbasis generasi muda.

“Jakarta Millennial Film Festival 2026 kami hadirkan sebagai wadah pembelajaran, pengembangan, dan apresiasi bagi sineas muda. Kami mengajak seluruh komunitas film pendek se-Jawa dan Bali untuk berpartisipasi aktif, karena kekuatan film nasional lahir dari gerakan komunitas yang konsisten dan berkelanjutan,” ujar Budi Mulyawan dalam keterangan resminya, Minggu (11/1/2026).

Baca Lainnya :

Festival ini akan menggelar rangkaian workshop dan festival film pendek yang terbuka bagi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum. Selain memperebutkan trofi bergilir Jaya Center Foundation, para peserta akan mendapatkan kesempatan mengikuti program workshop yang akan digelar di tujuh provinsi, yakni Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali.

Workshop direncanakan berlangsung mulai  Maret -Juni 2026, sementara pelaksanaan festival film pendek akan berlangsung dari Juni hingga Agustus 2026. Pembukaan festival dijadwalkan pada 20 Juni 2026 di Gedung Kesenian Jakarta, sedangkan final dan malam anugerah akan digelar pada 15 Agustus 2026 di Gedung Budaya Sabilulungan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Menurut pria yang akrab disapa Cepi ini, film pendek memiliki peran strategis dalam regenerasi sineas dan pembangunan kualitas perfilman nasional. Ia menilai festival film pendek menjadi ruang penting bagi sineas muda untuk memperkenalkan karya, mendapatkan apresiasi, memperluas jaringan, serta meningkatkan kapasitas kreatif dan teknis.

“Film pendek adalah fondasi lahirnya sineas-sineas besar. Melalui festival, karya mereka bisa dikenal publik, mendapat penghargaan, membangun jejaring dengan industri, dan belajar langsung dari sesama sineas,” katanya.

Ia menambahkan bahwa urgensi festival film pendek juga terletak pada upaya meningkatkan kualitas film nasional dan memperluas kesadaran masyarakat terhadap film sebagai medium budaya, edukasi, dan sosial.

“Festival ini bukan hanya tentang menang atau kalah, tetapi tentang proses belajar, pertukaran gagasan, dan membangun kesadaran bahwa film pendek memiliki posisi penting dalam industri film Indonesia,” ujar Budi Mulyawan.

Budi Mulyawan menilai kekuatan komunitas film pendek di berbagai daerah menjadi modal utama suksesnya Jakarta Millennial Film Festival 2026. Ia menyebut komunitas film di Jakarta, Jawa Barat, Banten, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Bali selama ini aktif memproduksi film pendek, menggelar pemutaran, workshop, dan festival berbasis kearifan lokal serta isu-isu sosial.

“Komunitas adalah denyut nadi perfilman. Tanpa komunitas, tidak akan ada regenerasi. Karena itu kami ingin festival ini menjadi ruang temu dan kolaborasi antar komunitas lintas daerah,” katanya.

Lebih lanjut, Budi Mulyawan juga menekankan pentingnya dukungan lintas sektor dalam menyukseskan festival ini. Ia menyebut peran pemerintah sangat krusial, mulai dari pembiayaan, regulasi, promosi, penyediaan infrastruktur, pendidikan, hingga perlindungan hak cipta.

“Kami berharap pemerintah hadir secara seimbang, mendukung tanpa membatasi kreativitas. Regulasi yang sehat dan dukungan pembiayaan akan sangat membantu pertumbuhan film nasional,” ujarnya.

Di tingkat daerah, peran pemerintah provinsi dinilai penting dalam membina generasi muda berbasis film pendek. Menurut Budi, pembinaan, pelatihan, pendampingan, promosi, dan kompetisi yang dilakukan pemerintah daerah dapat mendorong lahirnya film-film pendek yang mengangkat kebudayaan lokal dan memperkuat identitas daerah.

“Film pendek bisa menjadi alat yang sangat efektif untuk membangun kesadaran budaya dan jati diri generasi muda,” katanya.

Selain itu, keterlibatan lembaga seperti Badan Narkotika Nasional juga dinilai strategis, khususnya dalam mendorong produksi film pendek bertema pencegahan penyalahgunaan narkoba dan gaya hidup sehat.

“Film adalah bahasa yang dekat dengan anak muda. Pesan-pesan edukatif akan lebih mudah diterima jika disampaikan melalui karya film yang kreatif,” ujar Budi Mulyawan.

Dukungan Kementerian Ekonomi Kreatif dan Kementerian Kebudayaan juga diharapkan dapat memperkuat posisi film pendek sebagai bagian dari ekonomi kreatif sekaligus medium pelestarian budaya.

Budi Mulyawan menilai film pendek tidak hanya memiliki nilai artistik, tetapi juga potensi ekonomi yang besar jika dikelola secara serius dan berkelanjutan.

“Film pendek adalah produk ekonomi kreatif yang harus didukung dari hulu ke hilir, mulai dari ide, produksi, distribusi, hingga promosi,” katanya.

Dari sisi swasta, Budi Mulyawan berharap adanya keterlibatan aktif melalui investasi, produksi, distribusi, pemasaran, penyediaan infrastruktur, serta program pendidikan dan pelatihan bagi sineas muda. Ia juga menekankan peran insan perfilman untuk terus menjaga kualitas, integritas, dan kepekaan sosial dalam setiap karya yang dihasilkan.

“Peran swasta dan insan perfilman sangat penting, tetapi harus tetap seimbang dengan kepentingan masyarakat dan pengembangan generasi muda,” ujarnya.

Melalui Jakarta Millennial Film Festival 2026, Jaya Center Foundation berharap dapat melahirkan ruang kolaboratif yang inklusif dan produktif, memperkuat jejaring komunitas film pendek lintas daerah, serta mendorong lahirnya sineas-sineas muda yang kreatif, berdaya saing, dan memiliki kepedulian sosial.

“Kami ingin festival ini menjadi gerakan bersama, bukan hanya agenda tahunan, tetapi investasi jangka panjang bagi masa depan perfilman nasional,” pungkas Budi Mulyawan.

Editor : (RED/SAN)