Purbaya Sesat Logika, Kenaikan Pertamax Tidak Sesederhana Soal Angkutan Barang.
Oleh: Agung Nugroho, Direktur Jakarta Institute.

By Goenk1975 11 Jun 2026, 09:56:36 WIB Opini
Purbaya Sesat Logika, Kenaikan Pertamax Tidak Sesederhana Soal Angkutan Barang.

Keterangan Gambar : Agung Nugroho, Direktur Jakarta Institute


Bernusa.com— Pernyataan Menteri Purbaya yang menyebut kenaikan harga Pertamax hanya akan berdampak kecil terhadap inflasi karena tidak digunakan oleh angkutan barang memiliki dasar argumentasi yang dapat dipahami. Dari sisi penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK), dampak langsung kenaikan Pertamax memang cenderung lebih terbatas dibandingkan jika yang naik adalah Pertalite atau Solar yang digunakan secara luas oleh sektor transportasi dan distribusi barang. Namun, jika ditinjau lebih jauh, dampak ekonomi dari kenaikan harga energi tidak dapat diukur hanya dari kontribusinya terhadap inflasi langsung.

Dalam ilmu ekonomi, inflasi merupakan fenomena yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Selain biaya distribusi barang, inflasi juga dapat dipengaruhi oleh kenaikan biaya produksi, perubahan perilaku konsumsi masyarakat, serta ekspektasi pelaku ekonomi terhadap kondisi di masa depan. Karena itu, melihat dampak kenaikan Pertamax semata-mata dari penggunaannya pada sektor angkutan barang berisiko mengabaikan sejumlah jalur transmisi ekonomi yang juga berpengaruh terhadap pergerakan harga dan aktivitas ekonomi secara keseluruhan.

Pertama, pengguna Pertamax bukanlah kelompok yang kecil. Pertamax digunakan oleh jutaan pemilik kendaraan pribadi, pelaku UMKM, pekerja yang memiliki mobilitas tinggi, kendaraan operasional perusahaan, serta sebagian pengemudi transportasi berbasis aplikasi. Ketika harga Pertamax meningkat, biaya mobilitas kelompok-kelompok tersebut ikut bertambah dan berpotensi memengaruhi pola pengeluaran mereka.

Baca Lainnya :

    Bagi rumah tangga, kenaikan biaya bahan bakar berarti berkurangnya ruang untuk membelanjakan pendapatan pada kebutuhan lainnya. Sementara bagi sebagian pelaku usaha, kenaikan biaya operasional dapat mendorong penyesuaian harga barang atau jasa yang mereka tawarkan apabila kondisi pasar memungkinkan. Tidak semua pelaku usaha akan menaikkan harga, karena sebagian mungkin memilih menekan margin keuntungan atau melakukan efisiensi. Namun, potensi terjadinya penyesuaian harga tetap ada dan merupakan salah satu mekanisme yang dikenal dalam teori cost-push inflation.

    Kedua, ekonomi mengenal konsep second-round effect atau efek lanjutan. Dampak kenaikan harga energi sering kali tidak berhenti pada komoditas yang mengalami kenaikan harga secara langsung, tetapi dapat menyebar ke sektor lain melalui berbagai proses penyesuaian ekonomi.

    Ketika biaya hidup meningkat, tekanan untuk melakukan penyesuaian upah dapat muncul di sejumlah sektor, terutama apabila kenaikan biaya tersebut dirasakan secara luas oleh pekerja. Pada saat yang sama, perusahaan yang menghadapi kenaikan biaya operasional dapat mempertimbangkan berbagai langkah untuk menjaga keberlanjutan usahanya, termasuk melakukan efisiensi atau menyesuaikan harga produknya. Proses inilah yang dapat memperluas dampak ekonomi suatu kenaikan harga energi meskipun tidak selalu tercermin secara langsung dalam data inflasi pada periode awal.

    Ketiga, terdapat faktor ekspektasi yang sering kali kurang mendapatkan perhatian dalam perdebatan mengenai inflasi. Dalam ekonomi modern, keputusan pelaku ekonomi tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi saat ini, tetapi juga oleh perkiraan mereka terhadap kondisi yang akan datang.

    Ketika terjadi kenaikan harga BBM yang cukup besar, sebagian pelaku usaha dapat mengantisipasi kemungkinan kenaikan biaya lainnya pada masa mendatang. Sebagai respons, mereka mungkin melakukan penyesuaian harga lebih awal atau mengubah strategi bisnisnya. Fenomena ini dikenal sebagai inflation expectations dan telah lama menjadi salah satu perhatian utama bank sentral di berbagai negara karena dapat memengaruhi dinamika inflasi di luar dampak langsung suatu kebijakan.

    Selain inflasi, terdapat aspek lain yang tidak kalah penting, yaitu daya beli masyarakat. Dalam banyak kasus, dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat tidak selalu tercermin sepenuhnya dalam angka inflasi nasional. Kenaikan harga energi dapat tetap menimbulkan tekanan terhadap kondisi keuangan rumah tangga meskipun kontribusinya terhadap inflasi agregat relatif terbatas.

    Ketika pengeluaran untuk bahan bakar meningkat, pendapatan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan lain menjadi berkurang. Dalam perspektif ekonomi kesejahteraan, kondisi ini berarti terjadi penurunan pendapatan riil masyarakat. Dengan kata lain, meskipun inflasi nasional mungkin hanya bergerak terbatas, sebagian kelompok masyarakat tetap merasakan penurunan daya beli akibat meningkatnya biaya energi.

    Aspek lain yang juga perlu diperhatikan adalah kemungkinan terjadinya perpindahan konsumsi dari Pertamax ke bahan bakar yang lebih murah. Teori perilaku konsumen menjelaskan bahwa masyarakat cenderung mencari alternatif yang lebih ekonomis ketika terjadi perbedaan harga yang semakin lebar antarproduk yang memiliki fungsi serupa.

    Apabila perpindahan konsumsi ke BBM bersubsidi terjadi dalam jumlah yang signifikan, beban subsidi energi pemerintah berpotensi meningkat. Besar kecilnya dampak tentu akan bergantung pada skala perpindahan tersebut dan kebijakan pemerintah dalam mengelola distribusi BBM. Namun, potensi tersebut tetap perlu diperhitungkan sebagai salah satu konsekuensi ekonomi yang mungkin muncul dari kenaikan harga Pertamax.

    Karena itu, pernyataan bahwa kenaikan Pertamax hanya berdampak kecil terhadap inflasi tidak sepenuhnya keliru apabila yang dimaksud adalah dampak langsung terhadap perhitungan inflasi nasional. Namun, kesimpulan tersebut menjadi kurang memadai apabila digunakan untuk menggambarkan keseluruhan dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh kenaikan harga energi.

    Kenaikan harga BBM bekerja melalui banyak jalur sekaligus, mulai dari biaya operasional, daya beli rumah tangga, perilaku konsumsi, ekspektasi pasar, hingga potensi implikasi terhadap kebijakan fiskal. Oleh sebab itu, pembahasan mengenai dampaknya perlu dilakukan secara lebih komprehensif. Pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan hanya apakah inflasi akan naik atau tidak, melainkan sejauh mana kenaikan harga Pertamax memengaruhi aktivitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat secara lebih luas. Di titik inilah perdebatan mengenai kebijakan energi menjadi penting untuk ditempatkan dalam kerangka analisis yang utuh, bukan hanya pada satu indikator ekonomi semata.