- Permudah Akses Warga Ciracas-Rambutan, Jembatan Pule Ciracas Kembali Beroperasi
- GMNI Jakarta Laporkan Dugaan Korupsi Proyek KDMP ke Kejagung
- Pelatihan AI Dinas PPKUKM DKI Jakarta, Beri Dampak Nyata bagi UMKM Binaan
- Ketum Garuda Nofalia Heikal Safar Gelar BREAKFAST JAKARTA BERSIH Gema Bela Negara Dihadiri Menko Pangan Zulkifli Hasan
- DR. Chairul Hakim,SP., SE., MM Terpilih Menjadi Ketua PP. Pemuda Formula
- 1.023 Dokter Muda Adukan Kebijakan Pendidikan ke Komnas HAM
- Pramono: Pengelolaan Sampah Harus Dimulai dari Rumah Tangga, Biopori Jumbo Jadi Solusi Jakarta
- Perseroda dan Masa Depan PAM JAYA
- DPD GMNI Jakarta Laporkan Dugaan Korupsi KDMP Hari Ini
- Ketua SP PLN Indonesia Hadiri Kongres III KPBI
Ketua SP PLN Indonesia Hadiri Kongres III KPBI
Dukung Penguatan Politik Kelas Pekerja dan Kemandirian Ekonomi Nasional

Keterangan Gambar : SP PLN Indonesia hadir di kongres ke 3 KPBI
Bernusa.com. JAKARTA– Ketua Umum SP PLN Indonesia, Eko Sumantri, menghadiri pembukaan Kongres III Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) yang digelar di Hotel Acacia, Jakarta Pusat, Minggu (7/6). Kehadiran Eko Sumantri menegaskan komitmen SP PLN Indonesia dalam mendukung perjuangan gerakan buruh untuk memperkuat posisi politik kelas pekerja serta mendorong terwujudnya kemandirian ekonomi nasional.
Menurut Eko, tema Kongres III KPBI, "Menangkan Politik Kelas Pekerja dan Bangun Kemandirian Ekonomi", merupakan agenda yang relevan dengan kondisi Indonesia saat ini, ketika pekerja tidak hanya dituntut memperjuangkan hak-hak normatif di tempat kerja, tetapi juga terlibat aktif dalam menentukan arah pembangunan bangsa.
"Kelas pekerja adalah kekuatan sosial terbesar di Indonesia. Karena itu, buruh tidak boleh hanya menjadi objek kebijakan, tetapi harus menjadi subjek yang ikut menentukan arah politik dan pembangunan ekonomi nasional," ujar Eko Sumantri di sela-sela acara pembukaan kongres berlangsung.
Baca Lainnya :
- Wamenaker Soroti Impor dan Dorong Revisi UU Ketenagakerjaan0
- Kapolri Tegaskan Komitmen Lindungi Buruh Dan Dorong Perbaikan Desk Ketenagakerjaan Di Kongres KPBI0
- Sufmi Dasco Ahmad Dorong Sinergi Pemerintah dan Serikat Buruh Hadapi Ancaman PHK0
- Pembukaan Kongres KPBI Dihadiri Pejabat Negara, Pimpinan Gerakan Buruh Nasional Dan Elemen Ormas Sipil0
- Ratusan Buruh Kepung Kemenaker, Desak Pemerintah Hentikan Gelombang PHK Nasional0
Ia menilai kemenangan politik kelas pekerja bukan semata-mata soal keterwakilan dalam ruang-ruang pengambilan keputusan, melainkan tentang hadirnya kebijakan yang berpihak kepada kepentingan rakyat pekerja, menjamin pekerjaan yang layak, memperkuat industri nasional, dan melindungi aset-aset strategis bangsa.
"Politik kelas pekerja harus diwujudkan dalam bentuk kebijakan yang menjamin kesejahteraan rakyat, memperkuat industri nasional, memperluas lapangan kerja, serta menghentikan praktik-praktik yang merugikan pekerja. Buruh harus memiliki posisi yang kuat dalam menentukan masa depan bangsa," katanya.
Terkait kemandirian ekonomi, Eko menegaskan bahwa Indonesia tidak akan menjadi negara yang kuat apabila terlalu bergantung pada kepentingan modal asing dan melemahkan sektor-sektor strategis nasional. Menurutnya, penguatan industri nasional, energi nasional, dan penguasaan sumber daya strategis harus menjadi fondasi pembangunan ekonomi yang berpihak kepada rakyat.
"Kemandirian ekonomi hanya dapat dibangun jika negara berani memperkuat sektor-sektor strategis, mengembangkan industri nasional, dan memastikan hasil pembangunan dinikmati oleh rakyat pekerja. Buruh memiliki kepentingan langsung terhadap terwujudnya ekonomi yang mandiri, berdaulat, dan berkeadilan," tegasnya.
Eko berharap Kongres III KPBI dapat menghasilkan rumusan perjuangan yang semakin memperkuat persatuan gerakan buruh Indonesia dalam memperjuangkan kepentingan kelas pekerja sekaligus mendorong lahirnya kebijakan ekonomi nasional yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat.
Kongres III KPBI dihadiri oleh pimpinan serikat pekerja dari berbagai sektor industri, tokoh gerakan buruh nasional, serta sejumlah pejabat negara. Forum tersebut menjadi momentum penting untuk merumuskan strategi perjuangan buruh Indonesia dalam menghadapi tantangan ekonomi, politik, dan ketenagakerjaan di masa mendatang.
_-_Copy.png)







_(1).png)

