- FSPMKI dukung pemogokan dokter Spesialis di Belu NTT : Bupati Belu jangan Baper !
- Mendag Busan Resmikan Pasar Tematik Industri Sidayu di Gresik: Perkuat Ekonomi Rakyat Berbasis Wisata dan Budaya
- PRSI Audiensi dengan BRIN, Perkuat Arah dan Kolaborasi Nasional
- Robotika untuk Negeri Hadir di Padang, Cetak Generasi Inovator dari MAN 1 Kota Padang
- Pengamat Sebut Posisi AS dan Israel Terdesak, Iran Pegang Kendali di Selat Hormuz.
- Terungkap! Kisah Perselingkuhan Suami dalam, Dalam Sujudku, Istri Pilih Bersujud di Tengah Luka
- Ketergantungan Impor Picu Krisis Plastik, Pemerintah Dorong Bioplastik Lokal
- Langkah Nyata Pemerintah: Koperasi Desa Merah Putih Resmi Beroperasi di Mimika
- Perang Timur Tengah dan Perebutan Energi Dunia
- Kowapta Soroti Kinerja Jakpro: Ambisi Besar Dinilai Tak Sejalan dengan Akuntabilitas
Ketua Dewan Pakar JMSI: AI Pelengkap, Bukan Pengganti Reporter

Keterangan Gambar : Ketua Dewan Pakar Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Pusat, Hendry Ch Bangun, dalam Seminar Green Journalism 4.0 bertema Kolaborasi Teknologi AI dan Reporter, yang digelar di Kampus FISIP Universitas Muhammadiyah Prof Dr HAMKA (Uhamka), Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (23/12/2025).
BERNUSA.COM, JAKARTA, — Teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dinilai berperan besar dalam mendukung kerja jurnalistik, khususnya untuk tugas-tugas yang bersifat teknis dan berulang, seperti peringkasan informasi, pengolahan data, hingga penyusunan berita berbasis data.
Namun demikian, penggunaan AI secara berlebihan juga memunculkan kekhawatiran di kalangan insan pers. Sejumlah media menilai ketergantungan terhadap AI berpotensi menurunkan ketajaman berpikir reporter, mengganggu akurasi informasi, serta menimbulkan persoalan etika jurnalistik.
“AI masih diposisikan sebagai pelengkap, bukan pengganti reporter atau editor,” tegas Ketua Dewan Pakar Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Pusat, Hendry Ch Bangun, dalam Seminar Green Journalism 4.0 bertema Kolaborasi Teknologi AI dan Reporter, yang digelar di Kampus FISIP Universitas Muhammadiyah Prof Dr HAMKA (Uhamka), Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (23/12/2025).
Baca Lainnya :
- Program Guru Tamu SMKN 3 Jakarta, Dosen Uhamka Latih Public Speaking Siswa OTKP0
- Empat Fakultas Bergandengan Tangan Sukses Gelar MILAD ke-68 UHAMKA di Kampus A Limau0
- Mahasiswa FISIP UHAMKA Gelar CSR GETCANA di SMPN 55 Jakarta, Bekali Remaja dengan Edukasi Anti-Narkoba0
- Golkar Depok Panaskan Mesin Politik, Farabi: Kami Mitra Kritis, Bukan Oposisi0
- Lazada–PWI Dorong Wartawan Angkat Isu Kepercayaan dan Inovasi Digital Lewat Lomba Nasional 20250
Seminar yang merupakan bagian dari peringatan 6 Tahun JMSI ini juga menghadirkan Irsyan Hasyim, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, sebagai pembicara.
Acara dibuka oleh Wakil Dekan FISIP Uhamka, Farida Hayati, yang berharap kegiatan tersebut dapat memperkaya wawasan mahasiswa dalam menghadapi perkembangan teknologi AI yang semakin canggih dan kompleks.
Sementara itu, mewakili Ketua Umum JMSI Pusat yang berhalangan hadir, Syarif Hidayatullah, Ketua Bidang Usaha JMSI Pusat, mengatakan seminar ini merupakan bentuk kerja sama berkelanjutan antara JMSI dan kalangan akademisi.
Pemilihan tema AI dan jurnalisme dinilai relevan dengan kebutuhan media saat ini.
Dalam paparannya, Hendry Ch Bangun mengungkapkan materi yang disampaikan merupakan hasil survei khusus terhadap media-media anggota JMSI.
Ia menegaskan bahwa kerja jurnalistik di lapangan tetap membutuhkan peran manusia untuk memastikan fakta, konteks, dan nilai berita.
Ketua PWI Pusat periode 2023–2025 serta mantan Wakil Ketua Dewan Pers ini memprediksi peran AI dalam manajemen media akan semakin besar ke depan.
Namun, kualitas jurnalistik tetap ditentukan oleh kemampuan wartawan dalam berpikir kritis, memverifikasi informasi, dan menjaga etika profesi.
Mengutip berbagai kajian teknologi, Hendry menyebut AI telah merevolusi industri media dengan mengoptimalkan tugas-tugas berulang dan proses kompleks, sehingga wartawan dapat lebih fokus pada pekerjaan kreatif dan analitis.
Sementara itu, pembicara kedua Irsyan Hasyim menekankan pentingnya jurnalisme lingkungan di tengah memburuknya krisis ekologis di Indonesia.
Ia menegaskan bahwa meski teknologi AI semakin berkembang, peran reporter lapangan tidak dapat digantikan.
“Jurnalisme lingkungan memiliki tanggung jawab besar dalam mengawal kerusakan alam yang lajunya lebih cepat dibandingkan upaya pemulihannya,” ujar Irsyan.
Menurutnya, media harus melakukan pengawasan berkelanjutan terhadap kebijakan publik yang berdampak pada lingkungan hidup. Jurnalisme lingkungan, lanjut Irsyan, tidak hanya membahas isu alam, tetapi juga berkaitan erat dengan dimensi politik, ekonomi, dan sosial.(AS/BN).
_-_Copy.png)






_(1).png)


.jpg)