- Ilhamsyah Buka Suara di Rakernas Jarnasindo: Indonesia Emas 2045 Harus Berpihak pada Rakyat dan Buruh
- Berikut Panduan Praktis Memulai Usaha bagi Pemula
- Sri Asih, Perempuan Tangguh di Balik Layanan AgenBRILink, Permudah Transaksi Warga Kutoarjo
- KAI Logistik Rampungkan Pengiriman 8 Unit KRL dari Banyuwangi ke Kalimas
- Gods within Her: Generasi Muda Vietnam di Tengah Milan Fashion Week
- Kementerian UMKM dan Barantin Berkolaborasi Permudah Akses Pasar Ekspor UMKM
- Dokter Citra Poerwa: Stres Finansial Bisa Berdampak pada Kesehatan Fisik dan Mental
- Telkom AI Center Dukung AI Hackathon Aceh 2026, Dorong Inovasi Digital Berbasis AI di Kalangan Mahasiswa
- Jakarta Financial Festival 2026 Sukses, 1.000 Rekening Baru Dibuka
- Membawa Kehangatan ke Kota Pahlawan, Scandia Hadir di PRJ Surabaya 2026
Pengamat: Kecerdikan Iran Hadapi Tekanan Musuh Bertumpu pada Tiga Strategi Utama

Keterangan Gambar : Kecerdikan Iran Dalam Perang Melawan AS-Israel
JAKARTA— Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali menyoroti bagaimana Iran mampu bertahan menghadapi tekanan dari kekuatan besar dunia. Pengamat politik Timur Tengah, Gugum Awit Ramdhani, menilai bahwa daya tahan Iran tidak semata bergantung pada kekuatan militer, melainkan pada kecerdikan dalam memainkan berbagai bentuk tekanan non-konvensional.
“Kalau dilihat secara jernih, Iran tidak sedang mencari kemenangan cepat. Mereka bermain dalam jangka panjang, dengan memaksimalkan tekanan di berbagai sektor,” ujar Gugum saat dihubungi, Kamis (23/4/2026).
Menurutnya, terdapat tiga strategi utama yang menjadi fondasi pendekatan Iran, yakni tekanan ekonomi, politik, dan psikologis.
Baca Lainnya :
- Lampung Resmi ditetapkan Jadi Tuan Rumah HPN dan Porwanas 20270
- Menkop dan Menteri PPN/Bappenas Membahas Pengembangan Koperasi Sektor Produksi0
- Hari Kartini 2026, DWP Kemenkop Soroti Pentingnya Kesehatan Organ Dalam Perempuan0
- Politik Angka vs Realitas Ekologi: Sungai Tak Bisa Dipimpin oleh Statistik0
- Menkop Tegaskan KDKMP Mesin Baru Penggerak Ekonomi Desa0
Pertama, dari sisi ekonomi, Iran dinilai mampu memanfaatkan posisi geografis strategisnya, terutama di kawasan Selat Hormuz. Jalur ini merupakan salah satu urat nadi distribusi energi dunia.
“Iran tidak perlu benar-benar menutup jalur itu. Cukup dengan meningkatkan tensi, pasar global langsung bereaksi. Harga minyak bisa naik, distribusi terganggu, dan ini memberi tekanan tidak langsung kepada negara-negara lawan,” jelasnya.
Kedua, dalam aspek politik, Iran disebut memainkan strategi penyebaran pengaruh melalui jaringan sekutu di kawasan. Langkah ini membuat lawan seperti Amerika Serikat dan Israel tidak dapat memusatkan perhatian pada satu titik konflik saja.
“Ini strategi memecah konsentrasi. Ketika tekanan muncul dari banyak arah, maka respons menjadi lebih kompleks dan berisiko membuka konflik baru,” kata Gugum.
Ketiga, tekanan psikologis juga menjadi bagian penting dalam strategi Iran. Gugum menilai, pendekatan ini dilakukan melalui kombinasi retorika politik dan aksi terbatas yang sulit diprediksi.
“Ada unsur ketidakpastian yang sengaja diciptakan. Ini membuat lawan terus berada dalam posisi waspada dan, dalam jangka panjang, bisa menimbulkan kelelahan strategis,” ujarnya.
Ia menambahkan, pola ini menunjukkan bahwa Iran tidak berupaya menandingi kekuatan militer secara langsung, melainkan mengubah medan permainan.
“Iran paham betul keterbatasannya. Karena itu, mereka mengandalkan kecerdikan dalam membaca situasi dan mengelola tekanan. Ini yang membuat mereka tetap bertahan di tengah tekanan besar,” tutur Gugum.
Dalam konteks geopolitik saat ini, strategi tersebut dinilai efektif menjaga posisi Iran sebagai aktor penting di kawasan, sekaligus menjadi tantangan tersendiri bagi kekuatan besar yang berhadapan dengannya.
_-_Copy.png)









_(1).png)
